Pertanyaan Sejak Kecil

0
152
foto: nationalgeographic.com

Kembali kita membuka Forum diskusi yang diselengarakan secara Online oleh Website SKMA Online dan diikuti oleh para alumnus-alumnus SKMA se Indonesia dimanapun berada. Pokok bahasan kali ini membahas tentang Konservasi yang menjadi Pertanyaan Sejak Kecil sebagaimana yang diungkapkan oleh Saudara kita Mr. Beni Raharjo. Beliau adalah seorang pengamat, praktisi, dan salah satu alumni terbaik SKMA yang sedang melanjutkan pendidikan di Negeri Kanguru tepatnya di Kota Armidale. “Saya mah aya pertanyaan untuk kita semua yang sedari kecil rasanya belum ada jawaban yang memuaskan”, ungkapnya dengan logat Sunda yang kental.

Apa perlunya kita konservasi hewan langka? Misalnya badak dll” gumannya membuka Forum tercinta tersebut. “Padahal kan semua sudah “diatur”. Proses extinction itu sendiri bagian dari yang sudah ditentukan oleh The Great Creator. Contohnya, kalau Om Dinosaurus masih ada sampai sekarang kan kita malah dimakan mereka. Jadi punahnya Om Dino malah baik bagi alam”. (Padahal dia lupa, sekarang kan masih ada Dino Mariana !!! J J ). “Kalau melindungi hutan lindung saya sudah “paham”, tapi menghabiskan uang miliaran hanya untuk melindungi hewan yg ‘mungkin’ sudah digariskan untuk punah kok gak masuk logika saya”. Lebih baik ‘konservasi’ itu ditujukan bagi fakir miskin dan anak-anak terlantar. Itu kan sudah dinyatakan implisit di konstitusi kita. “Konservasi satwa mah gak ada di UUD 1945 (UUD yg diamandemen sy gak tahu)” kembali logat Sundanya menghiasi Forum tersebut. Seperti itulah Saudara Beny Raharjo Alumni SKMA Kadipaten Angk. 15 mengungkapkan persaan hatinya yang menjadi pertanyaan sejak kecil.

Atas permasalahn tersebut, Saudara Tomy Wahyudi alumni SKMA Samarinda Angk. 18 berpendapat yang berujar sedikit British “I think, kita sebagai mahluk Tuhan Yang Yang Maha Besar, dan yang paling sempurna dari semua mahluk Tuhan wajib untuk melindungi makluk-mahluk Tuhan yang lain”. Nampaknya Saudara kita satu ini mencoba memandang dari sisi keagamaan, kayaknya beliau mantan Seksi Kerohanian di SKMA dulu. “Kalau soal mbah “Dino”, mereka akan punah karena kehendakNYA, jadi kita pasti gak bisa mengkonservasi “mbah Dino”. Tapi kalo sekarang, manusialah yang menjadi penyebab utama kepunahan mereka (baca : flora dan fauna). “Nah, kalau semua itu punah, nanti bisa giliran kita yang akan punah” ungkapnya tanpa maksud menakut-nakuti.

Memang masalah di bumi berasal dari keberadaan manusia itu sendiri. Manusia itu mahluk yang aneh banyak yang penting dibilang tidak penting atau sebaliknya. “Sebagai contoh, saya pernah dan ikut mereview AMDAL ‘Wind Farm’ alias Pembangkit Listrik Tenaga Angin. Issue yang paling mencuat justru Aesthetic/keindahan. Katanya kincir-kincir angin yang besar itu menggangu pemandangan”. “Omong kosong !” kata Tomy Wahyudi.

Mari kita kembali ke tema konservasi. Kepunahan suatu species sebenarnya sudah menjadi fenomena alam, sudah dari asal mulanya. Mungkin Maha Pencipta mensetting batas maksimum bagi suatu spesies untuk bertahan hidup. “Mbah Dino cocok hidup di zamannya, tapi ketika era berganti dia tidak tepat lagi hidup” masih Tomy Wahyudi memberikan komentarnya.

Kalau negara kita kaya, itu semua tidak masalah. Ini negara masih miskin sudah bicara konservasi. Itu di negara-negara yang katanya “maju” juga dulunya tidak ada konservasi. Mereka lebih duluan menghabiskan hutan dan penghuninya, kita cuma telat saja. Ketika taraf hidupnya meningkat dengan sendirinya issue konservasi tumbuh. Begitulah Tomy Wahyudi mencoba memberikan tanggapan secara gamblang perihal Konservasi yang dianggapnya sebagai suatu pemborosan, akal-akalan Barat. Kepunahan suatu mahluk baginya sesuatu berjalan secara alamiah, sehingga kita tidak perlu menghabiskan anggaran hanya untuk kesenangan beberpa pihak yang berkepentingan.

Kemudian Saudara Hamiudin dari Dinas Pertanian, Kehutanan dan Kelautan Kabupaten Jembrana Prop. Bali memberikan tanggapan yang berbeda. Pandangannya tentang konservasi coba dimulai pada jaman lampau dimasa Nabi-nabi. Menurutnya ketika jaman dahulu kala, waktu Nabi Nuh diminta Allah SWT untuk membuat bahtera (kapal raksasa), Allah SWT tidak hanya memerintahkan untuk mengangkut manusia beriman saja, tapi juga hewan secara berpasang-pasangan dan benih tumbuhan dari berbagai spesies di muka bumi. “Mengapa demikian ?” ungkapnya. Ternyata hak hidup itu tidak hanya milik manusia saja, tapi juga ada hak hidup bagi mahluk lainnya dalam hal ini hewan dan tumbuhan. Makanya, selain harus ada HAM (Hak Asasi Manusia) juga harus ada HAH (Hak Asasi Hewan) & HAT (Hak Asasi Tumbuhan), dan itulah keadilan hidup baginya. Lalu, apa yang terjadi saat ini ternyata kepunahan itu hanya terjadi pada hewan dan tumbuhan saja. “Manusia mah tetap aja nyaman beranak pinak.” mengimbangi logat Sunda oleh rekan-rekan sbelumnya, karena ternyata dia sendiri cukup lama hidup di tanah Pasundan. “Lain halnya jika kepunahan tersebut disebabkan oleh takdir Allah SWT, seperti bencana bumi yang menyebabkan kepunahan Om Dino atau Mbah Dino atau sapalah nama kerennya, siapa yang mau menyalahkan Allah SWT ?” ujarnya.

Kembali ke tema konservasi. Ternyata isu konservasi selama ini lahir dan dikonsep oleh Dunia Barat demi kepentingan Barat. Padahal, kerusakan di muka bumi ini bermula dari ulah mereka lewat revolusi industrialisasi di masa lampau, dari situlah awal kerusakan bumi secara dratis. Pada bagian ini Saudara Hamiudin berpandangan sama dengan rekan-rekan sebelumnya yang menganggap Isu Konservasi sebagai akal-akalan Dunia Barat. Melanjutkan pembicaraan tadi, Hamiudin berkata “Yang terpenting saat ini adalah negara-negara berkembang termasuk Indonesia bersatu untuk meminta pertangungjawaban Dunia Barat atas kerusakan yang mereka perbuat”. Kita selama ini hanya menjadi kambing hitam atas perubahan iklim global. Pertanggungjawaban apa yg di minta ? Aksi, solidaritas, dukungan ekonomi bagi perbaikan kerusakan lingkungan, dan dana hibah bagi lingkungan yang masih terjaga. “Lalu apakah Barat selama ini tidak berbuat banyak ?” tanyanya. Memang ada sih, tapi lebih banyak dilakukan oleh LSM, Bank, Perusahaan, sementara bantuan pemerintah Barat selalu dibarengi bargaining position (tawar menawar) yang cenderung merugikan negara penerima bantuan. Kedaulatan atas suatu negara terganggu hanya atas tipu daya yang terbungkus indah oleh dana bantuan. Seharusnya bantuan tersebut berlaku tanpa syarat kepentingan negara tapi syarat kepentingan akan lingkungan itu sendiri.

Lebih jauh, Saudara Hamiudin berharap agar Menteri Kehutanan, Bapak MS Kaban untuk behenting berpusing ria dengan GERHAN yang hanya menghabiskan uang rakyat, mending skarang buat kebijakan publik untuk meminta pertanggungjawaban Dunia Barat. Biarkan perbaikan ekosistem Indonesia diambil dari kantong mereka, bukan dari APBN kita. “Suruh mereka bayar oksigen kita !” ungkapnya. Jadi kesimpulannya yaitu Konservasi itu tetap dan terus namun harus terwujud dengan negara Barat sebagai Garda terdepan dalam suplai dana, aksi dan teknologi. “Mereka selama ini lempar batu sembunyi tangan. !!” mengakhiri tanggapannya.

Dari Pulau Sumatra sana, Saudara kita Agus Baktiawan tidak mau ketinggalan berkomentar. “Iya tuh, mas konservasi satwa menghabiskan duit negara saja” ujarnya memulai diskusi. “Bayangkan saja, untuk seekor gajah, badak, orang utan, harimau, dan teman-temannya, biaya yang harus dikeluarkan negara sangatlah besar” ujarnya. (Biar gak capek bayangkannya, ke Kebun Binatang yuk !!!) Adapun rincian biayanya yaitu (kemudian Agus Baktiawan mengeluarkan struk pengeluaran si binatang tadi). Untuk satu ekor hewan, dapat menghabiskan biaya bagi kebutuhan antara lain : Uang Makan Makan Satwa, Uang Kesehatan Satwa, Uang Vitamin, dan lain-lain yang belum sempat tercatat. (rupanya dia lupa minta besar biaya ke kasirnya, jadi gk ada totalannya !! )

Lebih serius, Agus Baktiawan mengungkapkan : “Tapi kenyataannya, bisa jadi Uang Makan Satwa tersebut untuk Uang Makan Pelaksananya, Uang Kesehatan dan Uang Vitamin Satwa diperuntukan untuk kesejahteraan Pelaksananya”. Dengan menggebu-gebu “INI PEMBOROSAN!!! HARUS DIHENTIKAN!!!” Baktiawan menambahakan.

Antena dari bali masih bekerja baik, kembali Sdr. Hamiudin menangkap sinyal, lalu berargumen “Konservasi memang cost tinggi ! Di bumi ini Tuhan menciptakan mahluk hidup dengan hak-hak dasar yang dimilikinya. Selain HAM juga ada HAB (Hak Asasi Binatang)” Begitulah diungkapkan laksana aktivis pejuang HAM (HAMiudin). “Kita tidak bisa menuntut semua yang ada di bumi ini hanya untuk kelangsungan hidup manusia. Posisi manusia sebagai khalifah bertugas mengatur kelestarian alam termasuk kelestarian jenis tumbuhan dan satwa. Apabila suatu spesies mengalami kepunahan dan kepunahan itu karena perilaku manusia baik yang menghancurkannya langsung ataupun yang tidak sempat memberikan waktu, tenaga dan finansialnya to merawat mereka maka sejarah akan mencatat sebagai kejahatan manusi, lain halnya jika kepunahan tersebut terjadi secara alami karena seleksi alam seperti kepunahan donosaurus, siapa yang mau mengatakan bahwa itu kejahatan Tuhan ? Waktu, tenaga, pikiran dan biaya yang kita keluarkan to makhluk lain pasti akan dibayar oleh pencipta makhluk tersebut. Bukankah kita juga senang jika ada yang mencintai apa yang kita miliki ? Kecuali istri.. bahaya !!!!” (emang dah kawiiin ??????)

Lalu pemikir kita dari Benua tetangga Sdr. Beni Raharjo memberikan presentasi atas pertanyaan yang telah dilemparkannya “Konservasi perlu dilakukan di Indonesia. Di dunia barat mungkin tidak perlu dilakukan lagi karena memang tidak ada lagi yang perlu dikonservasi alias sudah habis. Menjadi kewajiban dilakukan jika uangnya adalah hibah alias bukan pinjaman dari lembaga/negara donor. Kalau kita ditekan untuk konservasi satwa yg perlu biaya banyak dengan ngutang harusnya nanti dulu.” Lebih jauh dia memberikan ilustrasi dialog Indonesia – Negara Maju.

Negara maju : “Hey Indonesia kamu punya sekian daftar spesies yg harus dikonservasi
Indonesia : “Enggih Sir, mohon petunjuk
Negara maju : “Ini saya beri uang sekian milyar US dollar. Tapi ada syaratnya
Indonesia : (Dengan berbunga-bunga) “Enggih Sir thank You. Apa syaratnya
Negara maju : “Bunganya 20%” – Lho katanya beri
Indonesia : “Enggih…”
Negara maju : “Harus mendatangkan tenaga ahli dari negara saya minimal 20 orang.”
Indonesia : “Enggih…”
Negara maju : “Harus disebut ini proyek kerjasama dengan negara saya.”
Indonesia : “Enggih…”
Negara maju : “Kamu harus menyediakan dana pendamping 50%
Indonesia : “Enggih…”

Ya semuanya serba Enggih biar cepat dapat kucuran. Padahal banyak negara maju bingung menyalurkan dana tabungan di bank2 mereka, banyak ahli2 nganggur. So, proyek konservasi jadi lahan yang empuk. Itung2 mempekerjakan orang2 mereka sendiri lah. So, boleh konservasi asal dananya hibah. Kita perlu prosperity dulu baru konservasi.” sanggahnya.

Masih dengan antena kencang, Sdr. Hamiudin belum juga mau diam. “Saya setuju itu. Prinsip dasar : Konservasi untuk hidup dan kehidupan bumi harus tetap jalan oleh negara manapun (berkembang, maju, hampir berkembang, atau berakhir maju). Pimpinannya adalah negara Barat karena revolusi industri yang mereka kibarkanlah yang membawa isu konservasi ini harus dilakukan. Pimpinan apa yang Indonesia tunggu ? Bantuan finansial.. harga mati. Sehingga misalnya saja GERHAN yg menghabiskan dana APBN triliyunan rupiah bisa digantikan dari dana hibah pemerintah Barat. Lalau jika mereka tidak memberi bantuan, konservasi terhenti ? Tidak, karena sebagai proinsip dasar hidup dan kehidupan di bumi. Tekanan publik dengan isu konservasi harus dilakukan untuk menekan Barat mengeluarkan dana hibahnya. !!! Memang sulit membalik apa yang telah berjalan saat ini, tapi konservasi harus tetap jalan terus !

Lanjutnya “Konservasi memang mengasikkan untuk dibicarakan dan juga untuk dijadikan uang bagi para “orang-orang” yang sengaja mau menguangkan konservasi. Sebagai garda konservasi di Bali, mungkin saya hanya bisa sampaikan bahwa pentingnya penanaman mental dan spiritual, konservasi itu akan indah kalo sehati dengan kita. Saya nggak menutupi bahwa, kami sebgai garda konservasi jenis flora dan fauna ada beberapa yang kurang menyertakan hati dalam bertindak konservasi. Mungkin hanya nanti di saat kita ketemu Sang Khalik ato bahkan sekarang didunia, sudah ada yang wajahnya mirip-mirip rusa, ular, dsb. Kesimpulannya Konservasi harus dan wajib dengan hati, tanpa hati konservasi hanya sebuah proyek yang tiap tahun kita laksanakan. Sekian dan Salam Rimbawan.

Akhirnya diskusi untuk sementara berhenti sejenak, sejalan dengan hampir matinya Website www.skma.org. Diskusi dilanjutkan lagi secara Online di www.rimbawan.net Anda ingin berkomentar ? Monggo !

Penulis: Hamiudin
Editor: Pemred

Tinggalkan Balasan