Tersesat di Jalan yang Benar

0
154
Ilustrasi tersesat di dalam hutan (foto: http://readynutrition.com)

Terasa aneh ya waktu baca judul artikel ku… Hmmm… Aku cuma mau berbagi cerita mudah mudahan bermanfaat buat semua, and my mission is to make all of you more respect & proud that you was be part of SKMA…. Here is my story begins.. Aku asli Pekanbaru, Ibukota Propinsi Riau, lahir dan menghabiskan sebagian besar waktu ku di kota bertuah. Aku mulai pendidikan seperti layaknya anak anak biasa. Mulai Taman Kanak-kanak (TK), trus lanjut Sekolah Dasar (SD). Setelah lulus SD aku memilih meneruskan ke sebuah Pondok Pesantren di Pulau Jawa tepatnya Jawa Timur. Dengan usia ku yang masih sangat muda keputusan ini membingungkan banyak orang disekitarku, om, tante, nenek, kakek bahkan teman sekolahku. Selain karena usia ku, jarak tempuh yang sangat jauh juga membuat banyak keluarga yang gak yakin dengan keputusan ku.

Tapi hatiku sudah mantap, tekadku pun sudah bulat. Aku berangkat ke Jawa Timur diantar mamaku tercinta. Setelah melihat kondisi pondok pesantren yang akan aku tempati mamaku semakin miris, jauh dari layak terutama untuk anak seusiaku (Jangan bayangkan pesantren tahun 90 an akan seperti pesantren yang kita dapati sekarang). Sebelum pulang, mamaku masih menawarkan jika aku berubah pikiran beliau siap membawaku pulang ke Pekanbaru. Tapi aku bilang, gak apa-apa ma biar dicoba dulu. Mama ku pun pasrah dengan keputusanku.

Hampir setiap bulan keluargaku selalu berkirim surat, karena waktu itu boro boro hand phone, telepon rumah pun masih langka. Waktu berlalu, tak terasa sudah hampir ku selesaikan pendidikan setingkat SMP ku di pondok pesantren. Aku ingat, waktu itu aku kelas 3 Tsanawiyah atau setingkat SMP, kami sedang ujian semester, tiba tiba dari microfon kantor tata usaha ku dengar nama ku dipanggil untuk hadir kekantor. Aku pun bergegas menuju kantor, ku lihat mama, nenek dan beberapa anggota keluargaku menunggu. Aku bahagia sekaligus sedih, karena saat itu juga mama mengutarakan keinginan nya untuk membawa ku pulang. Aku ikut keputusan mama, perasaan ku waktu itu tak karuan, karena memang mungkin itu masa masa labil pertumbuhan remaja. Satu sisi aku senang karena bisa kumpul dengan keluarga lagi, tapi lain sisi aku sedih karena sedikit banyak aku sudah mulai cinta pelajaran dan kurikulum pesantrenku. Ku selesaikan SMP ku disalah satu SMP Islam swasta di Pekanbaru.

Aku kembali dihadapkan pilihan sulit ketika memilih SMA, papa ku yang Pegawai Negeri mendengar informasi tentang Sekolah Kehutanan Menengah Atas (SKMA) dari kawan sekantornya, yang kebetulan untuk tahun pertama menerima peserta didik wanita. Terus terang waktu itu sama sekali aku tidak berminat, aku bahkan tidak merespon dengan baik keinginan orang tua ku. Tapi kedua orang tua ku terus membujuk, agar aku ikut test di SKMA.

Singkat cerita aku pun setuju ikut test, dengan do’a di dalam hati ku, mudah2an aku gak lulus (how stupid I was?). Benar saja baru masuk gerbang SKMA, saat itu aku ditemani mama ku tidak langsung turun dari mobil, sambil mengamati situasi, mama ku berkata, “Dari tadi mama gak lihat ada yang pakai jilbab, kamu harus lepas dulu jilbabmu baru mendaftar“. Aku terkejut, hati ku belum bisa terima. Apaaa? Haruskah aku melepaskan jilbab ku untuk sesuatu yang tidak ku inginkan? Tapi mama tetap ngotot, aku gak bisa mengelak lagi, aku pun mendaftar, dan akhirnya lulus..

Tidak perlu waktu terlalu lama untuk ku mulai menyukai peran baru ku sebagai siswi dengan kurikulum pendidikan yang berbanding terbalik dengan pesantren dulu. Ku nikmati pendidikan semi militerku dengan senang hati, mulai OPDAS, seni Beladiri Perisai Diri, Pelajaran baris Berbaris, Apel pagi, siang, malam dan banyak lagi rutinitas SKMA yang diam diam mulai membuatku jatuh cinta. Parahnya lagi aku justru bangga memproklamirkan diri ku sebagai Siswi SKMA dengan atribut kedinasan bak Perwira Angkatan Bersenjata. Kemana diriku yang dulu, yang sama sekali gak tertarik mendengar SKMA, yang berdo’a agar tak lulus waktu test masuk SKMA?

Kenyataan ini membuatku sadar bahwa modifikasi metode pendidikan semi militer dengan kedisiplinan, sedikit tekanan dan kekerasan, namun tetap dalam batas kewajaran bahkan tetap membina akidah bagi siswa/siswinya sesuai agama dan kepercayaan masing masing berhasil membuat aku menjadi pribadi yang lebih tangguh, mandiri dan tetap agamis. Di SKMA kita diajar tegas, cepat, tepat, dan menghormati satu sama lain. Kebiasaan berfikir taktis dan cepat selama di SKMA terbukti ampuh ku terapkan dalam kehidupan ku saat ini, baik dalam lingkungan tempat tinggal, organisasi bahkan kehidupan rumah tangga sekali pun.

Terlebih sekarang seiring berjalan waktu, semakin ku syukuri keputusan orang tua ku menyekolahkan ku di SKMA. Banyak hal positif yang aku dapat dari 3 tahun ku di SKMA. Dan yang sangat membanggakan bahwa dalam almamaterku persaudaraan dan jiwa korsa tetap terjaga until now… Bangga sekali menjadi bagian dari SKMA, So I’ll do my best untuk mengharumkan nama SKMA. Itulah mengapa aku menyebutnya Tersesat di jalan yang Benar. Karena di jalan ini aku temui apa yang aku mau, dan seperti apa kehidupan yang aku inginkan…

Thanks so much for many experiences SKMA… Bravo Forester…. Salam Rimbawan.

Penulis: Citra
Editor: Pemred

Tinggalkan Balasan