Pohon Vana Sri Bhavana

0
207

skma-indonesia-e1313175467437Pohon itu hanya di tanam di lima pulau.

Kadipaten, Samarinda, Pekanbaru, Ujung Pandang dan Manokwari.

Benihnya dari seluruh pelosok negeri ini

Aku adalah salah satu benihnya.

Tiga tahun waktunya aku disemai.

Kampus Hijau adalah persemaiannya.

Sekarang aku telah menjadi akar “Pohon Vana Sri Bhavana”.

Namun sebatas akar serabut  tipis yang terurai.

Menanti siraman air masa lalu.

Untuk menyatu bersama serabut-serabut lain.

Yang terbawa waktu masa depan.

Lalu menjadi kokoh berdiri hingga angin pun enggan menghembusnya.

Aku rindu, sangat rindu dan ingin menyatu.

Menjadi akar tunggang di “Pohon Vana Sri Bhavana”

….

“Ingatanku pada Green Campus”

Seingatku..ketika itu umurku berkisar 14 tahun…aku berdiri di bahu jalan Perintis Kemerdekaan Km. 17,5  Sudiang, Ujung Pandang (sekarang Makassar). Tangan kananku memegang tas, kopor, di saat yang bersamaan tangan kiriku memegang telapak tangan Ibu. Tepat dihadapanku, gerbang tinggi berpagar besi agak berkarat, dibelakangnya, sebelah kiri, pos jaga dan sejumlah orang yang tidak kukenali ketika itu, berpakaian dinas, warna krem bersepatu hitam PDH terbuat dari kulit. Posturnya tinggi, kekar, tegap dan tampan rupawan, cukur cepak menyerupai perwira AKABRI, yang saat itu menjadi menjadi idola para gadis remaja, prianya pun tidak ketinggalan mengidolakannya.

Salah seorang menyambut kami “..Selamat datang de..’” katanya, aku hanya tersenyum, orangtua yang membalas ucapannya..” Ia Pak, terimakasih..eh..betul mi..disini kampusnya Sekolah Kehutanan..” “ Iya bu..mmm..maaf bu..! orangtua dan keluarga hanya mengantar hingga di pos ini..seperti itu aturan yang berlaku di Sekolah ini bu..jadi biarkan anak ibu masuk sendiri, didalam sudah ada Pembina yang menunggu dan menjadi orangtuanya selama anak ibu bersekolah disini..yakinlah anak ibu akan baik-baik saja..ia sudah dewasa ” Ibu kaget, setiap pertanyaan yang ingin ditanyakan telah terjawab dengan ringkas, padat, jelas dan tegas..lalu Ibu berpesan padaku..” Nak belajarko yang rajin, janganko melanggar dan janganko ikut-ikutan sama temanmu yang nakal”. Air matanya menetes, deras, berulang-ulang ia coba mengeringkan dengan telapak  tangannya. Apalagi ketika ia melihatku menjunjung kopor diatas kepala sambil jalan bebek, air matanya makin tak terbendung. Itulah kalimat  terakhir yang kudengar dari ibu selama 1 tahun, selebihnya ia hanya menerima kabar lewat surat yang ku terima di ruang makan Angsana..namun aku jarang membalasnya, tidak sesering ketika aku membalas surat cinta perempuan yang akhirnya memutuskanku..aku patah hati tapi dia menyesal karena memutuskan cinta seorang perwira..ya..”Perwira Rimba Raya”.

Masa orientasi ku jalani selama 3 minggu, di dua tempat..2 minggu pertama di kampus dan 1 minggu berikutnya di Hutan Pendidikan dan Latihan Tabo-Tabo, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep.  “Aktualisasi Diri” dalam ruang pemaknaan bebas bersyarat, dan berbagai pertanyaan yang ketika itu samar-samar..”Siapa Saya”.

“Perhatian..pada hari ini  Hak Asasi Manusia kalian telah di cabut..kalian tidak bisa lagi bertanya apa dan mengapa.”  kalimat itu berlaku bagi kami “siswa baru” yang mengawali masa orientasi dasar “OPDAS” namun berlakunya hanya sementara, 3 minggu. Ungkapan itu dilatar belakangi dari konsepsi dan pemahaman yang terkonstruksi, bahwasanya, kami masih membawa sifat dan kebiasaan yang manja dan kekanak-kanakan. lalu, pertanyaannya adalah  bagaimana merubah perilaku tersebut..?, maka dipilihlah “Doktrin” ala militer sebagai jawabannya. Saya istilahkan “Brain Washes”, cuci otak, tapi bukan ala “teroris”. Cuci otak kami lebih santun dan tidak menyesatkan. Kebiasaan bermain dirubah menjadi bekerja, bergaul dirubah menjadi olah raga, malas jadi rajin, pemalu jadi percaya diri, penakut jadi berani, sederhananya adalah abnormal menjadi normal. Masa itu,  Sigmund Freud mengkategorikannya sebagai fase “Genital”, menurutnya,  telah terjadi perubahan biokimia dan fisiologi yg mana sistem endokrin memproduksi hormon seksual biologis dalam diriku yang menjadi alat untuk mengaktualisasikan diri. Yang terjadi adalah otot bisepku, utamanya lengan dan dada mekar dan kekar secara alami menyerupai roti setengah matang pada dinding luar perutku, suaraku berserak, bahu melebar, tertarik terhadap lawan jenis lalu imajinasiku pun menjadi. Singkatnya “Saya menjadi dewasa”. Saat kuceritakan pada teman sekampungku, ia bilang..”Kalian di paksa dewasa”..tapi ia kagum karena pikiranku melampaui konsepsinya dalam memahami apa itu harapan dan kehidupan. Terlebih lagi ketika ia tahu bahwa kekasih hatinya, jatuh hati padaku, aku menang dan ia mengakuinya.

Setiap sudut dan lingkaran dalam bangunan ruang di “Green Campus” merupakan tempatku mengaktualisasikan diri.  “Green Campus” itulah nama popular kampus kami. Sesuai dengan namanya, Tuja orientalis, Ficus benyamina, Diospyros celebica, Vitex goffasa, Gmelina arborea, Anacardium occidentale, Baringtonia,  Mimusops elengi di depan Tristania asrama putri, Santalum album depan asrama putra Diospyros 10 dan Accacia mangium di lapangan belakang. Sedikit yang kutahu, hanya itu jenis pohon yang masih kuingat, sesuai dengan nilai Dendrologi di raporku..62. Diantara pohon-pohon itu, kami hanya mengidolakan 1 pohon, namanya  “Mangivera indica” di depan dan belakang ruang kelas 1 A, 2 dan 3.

Tahun pertama adalah tahun yang sulit..seperti kata pepatah “awalnya memang sulit”..itu yang jadi peganganku untuk bertahan. Kondisinya “Under pressure”..di bawah tekanan hingga merasuk ke alam bawah sadarku lalu aku terbiasa dan tidak terjadi apa-apa..saat itu saya lebih sering melihat tanah bila berjalan, dan langit bila di belakang instia 1, asrama ku dan 17 temanku. Semua insting dan naluri menyatu, namun itu tidak cukup jika tidak “kalasi”. Di depan asrama instia berdiri megah bangunan penting, kami menyebutnya “Rumah Makan Angsana” tempat nya di kelilingi oleh Ruang Monitor di sebelah barat, Instia Asrama Putra Kelas 1 sebelah utara, Dapur dan Ruang Cuci sebelah timur, dan Tectona Asrama Putra Kelas 2 sebelah selatan. Disetiap sisi Angsana terdapat koridor, lantai ubin, dan beratap, yang menghubungkan langsung ke pintu masuk. Sudah menjadi kebiasaan kami adalah baris sebelum mengetuk pintunya. Ditempat ini, kami menyadari bahwa makan adalah sebuah bawaan lahir, naluri alam dan bakat alam. Dan tempat ini, kami merasakan menu yang sesungguhnya “empat sehat lima sempurna” secara terjadwal pada jam 07.15 sarapan menunya Makan nasi goreng, mie goreng, telur ayam saus tomat kadang masak kari dan sup banjar, minumnya teh hangat dan susu putih, 13.30 makan siang menunya makan nasi putih, sup asparagus, sup kimlo, sayur bening, cap cay, ayam goreng kecap, ayam goreng tepung “kentuky”, kari ayam/sapi, dendeng sapi, ati ayam dan sambal pedis asyik, buahnya salak, pisang, jeruk manis/kecut, dan semangka kalo lagi musim, minumnya air putih, 18.30 makan malam menunya menyerupai makan siang tergantung dari bapak/ibu dapur. Setelah berada diruangan itu kami tidak sabar menunggu ucapan DANKI..”Mengawali………..Doa selesai..mari makan….”..di susul dengan gemuruhnya teriakan…”MAKAAAAAAAN”..lalu selanjutnya hanya suara keras kelas 3 yang mendominasi, kelas 2 sayup-sayup berbisik dan kelas 1 sunyi senyap.

“Fenomena Kompleks”..Green Campus layaknya sebuah kompleks perumahan, hunian masyarakat urban, bedanya tempat kami lebih menutup diri dari hubungan dengan dunia luar. Saat tamu datang, ia wajib menulis nama dan tujuan berkunjung di buku tamu, jam bertamu dibatasi hanya 2 jam mulai pukul 16.00-18.00, kecuali hari libur dan kondisi darurat, jamnya bertambah. Saking ketatnya pertahanan kami, pernah suatu kali, kami mencegat seorang tamu yang ternyata pembina di kampus kami..”Mohon maaf pak..mau ketemu siapa pak..? silahkan isi buku tamu dulu pak..!” bapak itu melihat kami, yang piket saat itu, lalu ia menuju ke meja piket dan menuliskan namanya di buku piket, kami membacanya “AHMAD TULUNG”  tujuan berkunjung “BERTEMU DENGAN AHMAD TULUNG”  kami keheranan, dalam pikiranku tersirat “kembarki namanya..?”

lalu ia bertanya ” sudah tau rumahnya de..?”

“maaf pak..belum tau pak..”

“Mari saya antar kerumahnya..!” katanya.

Menurut pesan senior, kalo ada tamu pembina..”kalian harus antar ke rumahnya.” ini kondisinya terbalik, tamu yang mengantar kami. Untuk menutupi kesan bahwa kami tidak mengantar tamu, maka kami ikut ajakannya, toh senior juga tidak tahu kalo sebenarnya kami tidak mengenal pak Ahmad Tulung apalagi rumahnya. Disepanjang jalan kami memberi salam kepada senior yang berpapasan jalan, dan disaat yang bersamaan senior tersebut memberi salam kepada bapak yang kami antar..

“Selamat Sore kak ” salam kami

“Selamat Sore Pak” jawabannya. Kejadiannya selalu berulang jika berpapasan sama senior yang lain. kami tambah merasakan aneh dan was-was, jangan sampai bapak ini adalah pembina SKMA. Sesampainya di rumah yang ia tuju..”terima kasih de” kata dia

“Sama-sama pak”..jawab kami. Terdengar dari dalam rumah suara anak-anak berteriak “pulang mi pappi”..seketika itu juga, hawa aneh merasuki dada ku, teman piket ku pun merasakan hal yang sama hingga kami pucat pasi.

Kami masih siswa baru saat itu. setelah kejadian itu kami mendapatkan pengalaman baru yang penuh intrik sarat makna tanpa di dramatisir layaknya sinetron atau telenovela yang waktu itu menjadi tontonan paling tinggi ratingnya setelah siaran sepak bola “SERIE A” bagi siswa.

Bersambung…

(dikutip dari dokumen Ishak Andi Kunna, SKMA UP 2000, di group Facebook “Reuni Dua Dekade (1992-2012) IKA SKMA Ujung Pandang”) at http://www.facebook.com/groups/reuni.skma.upg/doc/278045648919477/

Tinggalkan Balasan