Pembangunan Konservasi Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup (Suatu Telaahan Teologis)

0
251
Ilustrasi: Eksploitasi Sumberdaya Hutan (Foto: ifacs.or.id)

PENDAHULUAN

Berbicara mengenai lingkungan hidup telah menjadi wacana yang tidak bisa dilewati dewasa ini baik oleh lembaga agama, pemerintah, tokoh masyarakat, pemerhati lingkungan dan masyarakat umum. Isu lingkungan hidup telah mewarnai pelbagai temu wicara baik di tingkat nasional maupun ditingkat internasional. Indonesia sendiri telah menampilkan tokoh-tokoh yang sangat akrab dengan lingkungan hidup misalnya : Pror. Dr. Emil Salim. Pencemaran dan pengrusakan lingkungan hidup sudah semakin mencemaskan dan membahayakan manusia. Sejalan dengan itu makin meningkat pula usaha manusia untuk melestarikan lingkungan hidup, entah dengan alasan ekonomi, sosial budaya maupun agama. Tulisan ini tidak lain hanya untuk menghentak, menantang kesadaran dan tanggungjawab luhur bersama untuk memperhatikan, memelihara, serta memanfaatkan alam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa dan lingkungan hidup sebaik-baiknya. Semuanya kita garis bawahi karena kenyataan menunjukan bahwa usaha dan pekerjaan manusia tidak hanya membawa kemajuan melainkan telah memanipulasi alam, merusak lingkungan hidup dan mengancam kelestarian ciptaan, yang berarti juga mengancam kehidupaan manusia sehari-hari.

Paus Yohanes Paulus II pada hari perdamaian dunia tahun 1990 menyampaikan amanat yang sangat tegas mengenai krisis ekologis dan tanggung jawab bersama manusia dalam masalah lingkungan hidup ini. Manusia dari pelbagai agama diharapkan untuk memahami dan menghayati dasar yang paling dalam dari tanggungjawab untuk melestarikan alam dan lingkungan hidup yaitu “ Hormat terhadap Hidup”. Tak dapat disangkal bahwa keserakahan manusia merusak alam dan lingkungan hidup pada gilirannya akan merusak kehidupan manusia itu sendiri dan seluruh kehidupan. Karena itu tanggungjawab ekologis merupakan wujud tanggungjawab terhadap “kehidupan sekarang ini” maupun “kehidupan bagi generasi mendatang”. Selanjutnya hormat terhadap hidup menuntut perubahan ke arah cara hidup sederhana, tahu batas dan kepekaan yang sanggup terlibat dengan semangat rela berkorban. Dalam hal ini agama agama mesti bergandengan tangan dalam dialog bersama karena pada hakekatnya semua dipanggil scara bersama-sama oleh sang penncipta untuk melaksanakan kebajikan yaitu melestarikan alam dan lingkungan hidup sebagai salah satu perwujudan nyata dari iman yang matang dan dewasa.

Namun Paus juga mengatakan bawha dibalik pengrusakan alam serta lingkungan hidup yang bertentangan dengan akal sehat ada “kesesatan antropologi” yang sayangnya memang sudah tersebar luas. Manusia bukannya menjalankan tugasnya bekerjasama dengan Allah di dunia justru mau menggantikan tempat Allah, dan demikian akhirnya membangkitkan pemberontakan alam yang tidak diaturnya, tetapi justru diperlakukan sewenang-wenang. Manusia melakukan “kekerasan” terhadap lingkungan hidup. Karena itu baik pemerintah maupun lembaga agama berbicara mengenai “akar-akar dosa pengrusakan lingkungan hidup. Krena semua kita tahu bahwa lingkungan hidup adalah persoalan mati hidup bagi seluruh makluk di alam semesta ini. Kekristenan secara khusus mengembangkan :teologi lingkungan hidup” yang mengangkat dan mewujudkan gambaran yang tepat mengenai keberadaan manusia dalam ciptaan.

AKAR-AKAR DOSA TERHADAP LINGKUNGAN HIDUP

Berbicara tentang akar dosa ini tidak unuk pada agama kristen saja. Setiap tradisi agama termasuk agama suku, memiliki suatu ajaran tentang penciptaan yang mengaku dunia dan dam semesta ini sebagai milik sang pencipta. Namun apa yang terjadi sekarang ini ditengah kehidupan kita? Menbgapa kita tidak mengakuinya sebagai milik Tuhan ? Mengapa manusia berani memperkosa lingkungan hidup ini ? Mengapa kita mesti berbicara mengenai “teologi berwawasan lingkungan” akhir-akhir ini lebih dari sebelumnya ? Dimanakah akar dari dosa melawan “lingkungan hidup ini” ?

Satu : Kesombongan Teknologis

Kesombongan ini terwujud dalam sebuah keyakinan akan keunggulan teknologi modern yang berlebih-lebihan. Diyakini bahwa segala sesuatu dapat diatasi dengan “Iptek” bahwa lingkungan alam dapat dikuasai dan alam semesta dapat direkayasa. Kesombingan teknologi me,mbuat kita berani melakukan hal-hal yang kita tidak mampu kendalikan. Kita bisa menghancurkan atom untuk memperoleh tenaga nuklir namun sampai sekarang kita tidak mampu menetralisir “sampah nuklir” yang tetap ganas sampai berabad-abad. Dengan peralatan canggih kita bisa menghabiskan hutan dalam tenpo satu hari lebih luas dari yang bisa tebas oleh ratusan petani dalam beberapa tahun. Namun hutan rimba yang ditebas secara canggih itu turut melibas ribuan jenis tanaman dan marga satwa, dan kita tidak mampu menumbuhkannya kembali seperti semula. Padahal kalau manusia mau membangun sesuatu dia harus menggunakan apa yang telah Allah sediakan yaitu lingkungan hidup itu. Manusia tidak bisa melakukan :creatio ex nihilo” yang hanya menjadi privilese Tuhan sendiri. Jadi pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan memang merupakan perampasan “Ketuhanan”. Manusia menggapai atau menyatakan dirinya sanggup berprestasi apa yang sebenarnya diluar kesanggupannya

Dua : Sikap Teknokratis

Dalam sikap ini manusia memandang lingkungan hidup sebagai obyek penguasaannya. Alam dipandang sebagai sarana, tambang kekayaan, sumber energi, yang memangnya harus dieksploitasi bagi kebutuhan manusia. Dengan sikap ini manusia dengan ipteknya tidak menghendaki adanya proses spontan atau alamiah, tetapi dengan merekayasa proses-proses yang menundukan alam lingkungan bagi kemungkinan-kemungkinan pemenuhan kebutuhannya secara maksimal. Maka oleh iptek, hutan alami diganti dengan pohon-pohon produktif, sumber-sumber air dibuka bagi kepentingan pariwisata dan kepentingan rekreasi, bayi-bayi alami dipandang tidak terjamin mutunya, karena itu diganti dengan bayi tabung yang dibayangkan bakal menjadi manusia unggul. Dengan demikian “efisiensi” telah mnenjadi sebuah idiologi. Dengan sikap teknokratis ini manusia memperlakukan segala sesuatu disekitarnya termasuk sesama sebagai obyek semata-mata. Manusia tidak lagi menjadi bagian dari kehidupan sekitarnya tetapi, malah terasing darinya.

Tiga : Keterasingan Kota

Orang kota patut disebut suku yang terasing dari lingkungan alamnya. Jika kita bertanya pada anak kota, “susu datang dari mana”? kemungkinan besar dia menjawab : “dari kaleng”. Para penduduk kota hidup dari hasil pertanian untuk kehidupannya namun pada waktu yang sama menggangap pertanian sebagai pekerjaan yang kolot dan hina. Mereka membeli kayu untuk membangun rumah dan segala kepentingan lainnya namun mereka tidak mendengan pohon jatuh di hutan. Hanya orang yang tinggal didesalah yang menyaksikan kemerosatan lingkungan secara langsung. Manusia kota mengalami alam semesta sebagai komoditi yang telah diolah dan dimanipulasi oleh manusia. Dalam lingkup yang lebih luas keberhasilan ilmu pengetahuan dalam memahami dan memanipulasi proses-proses alami telah mereduksi alam semesta pada kepentingan-kepentingan “kemanfaatan” , yang disebut eksploitasi sumber daya alam. Sekagus makna dan martabat dunia alam telah dikosongkan, sehingga manusia semakin mengasingkan diri dari padanya. Semakin makmur dan berkuasa semakin terasing. Sumber air sudah tercemar ? Beli “Aqua” saja. Udara sudah kotor ? Ganti saja dengan cyuaca buatan yaitu “air condition”. Mereka yang mengijinkan hutan ditebang, namun bukan mereka yang haus jika semua mata air mengering. Mereka boleh mengotori udara dengan asap dari pabrik-pabrik namun bukan mereka yang terkena batuk-batuk dan flu. Dalam hal ini para pemerintah dan penguasa yang terasing dengan lingkungan atau alam semesta melainkan juga terasing dari “konsekwensi perbuatan mereka terhadap sesama manusia”. Oleh Paul Tillich hal ini disebut dosa yang didefinisikan sebagai “alienation from the ground of one,s being” atau aliansi dari sumber keberadaan itu sendiri.

Empat : Modalisme

Praktek-praktek dunia perdagangan yang merusak lingkungan hidup perlu kita cermati. Modalisme adalah bagian dari situasi perdagangan “free trade” dan bukannya “fair trade” atau pasar adil. Pasar bebas merupakan “kabar gembira” dan para pengusaha dianggap sebagai mesin paling unggul untuk menggerakan roda pembangunan. Yang menjadi bahan bakar mesin itu adalah “modal”. Modal adalah sumber daya dagang, apa saja yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan komoiditi yang kemudian dapat dijual untuk memperoleh keuntungan. Dalam hal ini bukan hanya dana inveatasi yang merupakan modal: modal seorang buruh kasar adalah kedua tangannya, modal penyayi adalah suaranya, modal pelacur adalah tubuhnya. Semakin pola pandang kita terarah kepada perhitungan ekonomis, semakin kita cenderung melihat segala sesuatu sebagai “potensi” menjadi “modal”. Dengan demikian pejabat-pejabat kita semakin memandang wilayahnya sebagai sumber dagang, atau “modal pembangunan”. Dari puncak gunung sampai ke pantai, hutan, padang, batu-batuan semuanya dicarikan kesempatan untuk diperdagangkan. Manusia sendiri tidak lagi mempunyai martabat dalam dirinya sendiri, tetapi semakin dipandang sebagai”modal” juga. Modal adalah alasan utama mengapa eksploitasi alam sepertinya dibiarkan dan direstui baik langsung maupun tidak langsung. Dan demi modal itu, eksploitasi alam harus bermanfaat maksimal dengan biaya serendah-rendahnya. Industrialisasi tanpa wawasan lingkungan biasanya hadir dalam konteks sebuag rezim diktatorial dan sering sekali bernaung dibawah idiologi :pertumbuhan”.

Rasanya tidak perlu dikatakan lagi bahwa topik lingkungan hidup telah menjadi masalah dunia dewasa ini. Mungkin agak mubazir kalau kita mengulangi informasi mengenai praktek pengrusakan lingkungan/ekosistem baik secara global, nasional maupun lokal. Informasi ini dapat kita temukan setiap hari dimana-mana seperti : koran, majalah, radio, tv dan lain. Agak menarik juga untuk disadari bahwa sumbangan untuk kerusakan lingkungan bukan hanya dari perusahaan raksasa atau multinasional melainkan juga datang dari masyarakat biasa karena pelbagai alasan seperti : keserakahan, kurang kesadaran, kurang pendidikan atau terutama kemiskinan. Masyarakat juga menebang pohon seenaknya, membakar serta menggundulkan bukit,membuang sampah dimana-mana lebih-lebih bahan-bahan yang tidak terurai. Karena itu secara tersirat Paus Yohanes Paulus II berbicara mengenai :Kesesatan Antropologis” yang harus ditangani secara sungguh-sungguh.

Permasalahan lingkungan hidup tentulah tidak dapat dilihat dari satu aspek saja. Masalah yang sama ini bercitra multi aspek :sosio-budaya, ekonomi, hukum, politik dan religius.Dalam citra multi aspek ini, manusia bisa merenungkan bagaimana hubungannya dengan alam ciptaan. Sejarah kekristenan sepertinya menampilkan sebuah sikap bermusuhan dengan alam lingkungan. Hal ini didasarkan pada prinsip atau strategi misioner yang melihat semua bentuk persembahan agama suku dan semua media serta fasilitasnya sebagai “kafir” dan harus dimusnahkan. Dengan demikian hadirlah “pedang sending dan misi” menebas pohon dan hutan, memusnahkan sumber-sumber air karena dipandang berhala (kasus Boas di Timor). Jdi agama-agama yang kita katakan kafir sebenarnya sangat akrab dengan alam semesta, sayangnya agama-agama Timur yang sering dijuluki “primitif” itu yang justru memandang bumu dan alam semesta sebagai “rahim ibu” bagi manusia,hewan, tumbuh-tumbuhan dilihat sebagai hal yang hampir punah atau tidak berpengaruh besar lagi. Akhir-akhir ini mulai tumbuh kembali apresiasi terhadap agama-agama asli itu namun kelihatannya sudah sangat artifisial.

PARADIGMA RELASI MANUSIA DAN ALAM CIPTAAN

Kesesatan antropologis sering sekali ditafsir sebagai keadaan dimana manusia itu sendiri salah menempatkan dirinya dialam semesta ini. Dan kekeliruan ini berdampak merugikan semua pihak lain diluar manusia itu sendiri termasuk alam ciptaan atau lingkungan hidup dimana manusia itu hidup. Lebih parah lagi yaitu hadirnya kenyataan dimana manusia dalam kesesatan itu ternyata sangat merugikan diri sendiri baik langsung mapun tidak langsung. Dalam sejarah pemikiran manusia kita dapat melihat relasi manusia dengan alam ciptaan dalam tiga kemungkinan sebagai berikut :

Satu : Manusia diatas Alam (Man above Nature)

Dalam paradigma pertama ini alam ciptaan dilihat sebagai abdi kepentingan manusia. Thomas Hobbes dan R. Descartes misalnya mengatakan bahwa dengan pencapaian ilmu pengetahuan dan filsafat, manusia mempunyai kuasa untuk bertindak dialam sebagai “lords and possessors of nature” atau tuan dan pemilik alam semsta ini.Pakar lain yakni Francis Bacon mangatakan :cience is power”, yang berarti manusia yang berpengetahuanlah yang menguasai alam semesta ini. Memiliki pengetahuan sama dengan memiliki kekuasaan. Dengan pikiran dan penelitian-penelitian manusia mengejar pengetahuan sebagai tujuan. Bertrand Russel sendiri mengatakan bahwa teknik modern adalah alat yang memberi manusia “kuasa” untuk mengubah dunia. Sikap inilah yang melahirkan “antroprosentris” dimana kepentingan manusialah yang menjadi ukuran daslam pengelolaan alam dan sumber daya kekayaannya meskipun dampaknya adalah kerusakan alam lingkungan hidup manusia. Antroprosentris menciptakan relasi manusia dengan alam ciptaan dalam paradigma “subyek-subyek” atau “winner-looser”. Paradigma relasinya adalah “win-lose atau “menang-kalah”.

Dua : Manusia di dalam Alam (Man in Nature)

Disini manusia dilihat sebagai satu diantara beribu-ribu ciptaan lainnya; satu spesies diantara spesies lainnya, sama-sama terbatas, mutlak saling membutuhka. Dalam paradigmas relasi kedua ini manusia direduksi atau dipermiskin seperti jenis-jenis kehidupan lainnya. Manuis misalnya hanya dilihat sebagai “animal rationalis” saja atau lebih parah lagi manusia adalah salah satu “onderdil atau spareparts” di alam semesta ini. Kalau dalam paradigma pertama diatas manusialah yang dominan dan berkuasa disini justru manusia direndahkan dan didominasi, manusia harus tunduk kepada hukum alam semesta.

Tiga : Manusia bersama Alam (Man with Nature)

Disini manusia tidak menempatkan dirinya superior atas segala alam ciptaan namun tidak juga identik dengannya apalagi direndahkan. Manusia berada bersama atau diamping ciptaan yang lain itu, meskipun tetap dalam perbedaan-perbedaan. Makna ini juga ada dalam Alkitab: Allah beserta (di tengah-tengah) kita. Disini “bersama” berarti “kasih” atau kata lain dari “mengasihi”. Kasih berarti tetap ada perbedaan juga: sya, engkau, dia, tetapi tetap berada dalam relasi kasih. Inilah inti dasar dari “Solidaritas” seperti yang dikatakan dalam Kitab Roma 8 : 22 “segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin”. Fan ini juga basis bagi rancangan bangunan kehidupan manusia dalam alam semesta ini. Bahwa atas dasar solidaritas itu, manusia memandang semua ciptaan Allah secara utuh, sebagaimana diciptakan Allah (Kejadian 1:10-12). Semua makhluk memang hidup dan berada dalam relasi saling bergantung atau memerlukan (arti ekosistem). Merusakan keutuhan ciptaan ini akhirnya berujung pada memusnahkan semua hal yang mendukung hidup manusia itu sendiri. Dan disinilah letaknya panggilan kepada sebuah pola hidup baru yang berdasar pada “pengasihan” bukan pada ”penguasaan dan eksploitasi” atas ciptaan lain (Mazmur 104).

Tentu saja “kesesatan antropologis” yang dimaksudkan didini adalah paradigma relasi yang pertama dan kedua. Nisbah manusia dengan alam yang “di atas alam” atau “di dalam alam” , itulah hal yang harus kita cermati dan hilangkan dalam relasi kita dengan lingkungan hidup manusia. Kalau relasi kita tidak demikian yakni “di atas alam” atau “di dalam alam”, alam akan diperlakukan sewenang-wenang poleh manusia (antroposentris), dan alampun tidak disembah atau di dwa-dewakan (naturasentrisme). Meninggalkan paradigma relasi yang pertama dan kedua berart5i bergeser menuju paradigma yang ketiuga yaitu “man with nature” atau manusia bersama alam. Dalam pendekatan ini kita semua menerima kebenaran bahwa hanya Allah sendirilah yang berada diatas segala-galanya, manusia dan ciptaan adalah sesama ciptaan, dan manusia bukan hanya mengatur alam semesta melainkan juga memelihara atau “melayani” segenap ciptaan dengan bertanggungjawab kepada yang Mahakuasa. Dengan pemahaman bahwa manusia bukan pemilik alam semesta, sikap-sikap yang cenderung keras dan kejam terhadap alam ciptaan lain dapat dihindari.

PELESTARIAN ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP ; PANGGILAN TEOLOGIS

Ilustrasi: Eksploitasi Sumberdaya Hutan (Foto: ifacs.or.id)
Ilustrasi: Eksploitasi Sumberdaya Hutan (Foto: ifacs.or.id)

Pemerintah khususnya Kementrian Lingkungan Hidup berusaha memecahkan masalah pencemaran alam dan pengrusakan lingkungan hidup. Pelbagai usaha penyadaran telah dilakukan dengan bertolak dari dan demi kepentingan sosial, ekonomi, politik maupun budaya. Pada masa-masa terakhir ini tinjauan teologis telah mendapat tempat yang sangat penting dalam proses penyadaran itu. mInsan beragama ditantang dengan tanggungjawab bahwa pelestarian alam dan lingkungan hidup merupakan panggiulan teologis karena manusia adalah mitra Allah dalam karya penyempurnaan alam semesta ini. Gereja Katolik tidak henti-hentinya menyadarkan umatnya mengenai tugas panggilannya yang luhur ini. Masyarakat adalah persekutuan insan-insan beragama. Agama dan nilai-nilainya mesti memberikan sumbangan bagi pembangunan masyarakat bangsa umumnya dan pelestarian alam serta lingkungan hidup pada khususnya. Sikap gereja katolik dapat disimak dalam pokok-pokok berikut ini :

Satu : Amanat Perjanjian Lama

Gereja menyadari bahwa menjadi kewajiban umatnya untuk prihatin terhadap alam dan lingkungan hidupnya sebagai jawaban terhadap panggilan teologis yang telah diamanatkan Kitab Suci. Manusia telah dianugerahkan Allah suatu martabat istimewa sebagai mitranya dalam melanjutkan karya penciptaan dunia. Di dalam Kitab Kejadian 1:28, manusia diberi kuasa untuk memenuhi bumi, menaklukannya, menguasai ikan dilaut dan burung-burung diudara serta segala binatang yang merayap dibumi. Orang Kristen diajak untuk meninggalkan tafsiran yang negatif dan eksploitatif atas teks Kitab Kejadian ini yaitu bahwa manusia diberi wewenang untuk menguras dan menguruskan alam semesta. Manusia memang ciptaan utama namun alam semesta bukan milik manusia. Pengrusakan lingkungan adalah sebuah ”perampasan Ketuhanan” dan dengan demikian dunia tidak lagi dilihat sebagai berkah Allah bagi manusia dan dunia tidak dipandang secara terhormat sebagai medan komunikasi Allah dengan manusia. Pemberian Tuhan yaitu alam semesta yang digunakan secara sewenang-wenang menyalahi martbat manusia itu sendiri sebagai salah satu ciptaan Tuhan.

Dua : Amanat Perjanjian Baru

Karya kita melestarikan alam dan lingkungan merupakan pengakuan atas nilai penjelmaan Allah menjadi manusia. Teologi pembangunan dan pelestarian alam itu sendiri memiliki basis Kristologis yang kuat. Penjelmaan Allah menjadi manusia atau inkarnasi adalah model penyelamatan dunia yang utama. Penjelmaan berarti Yesus hendak menyelamatkan manusia yang berdimensi personal, internal, total serta mondial. Allah mempercayakan kita sebuah dunia untuk dibangun bersama manusia lain. Dalam surat Paulus dalam Kolose 1:15 dan 2 Korintus 4:4 mengatakan bahwa kita adalah ”imagodei”sebagai ”partner Pencipta” dan dalam terang inkarnasi ini Tavenier berkata ”Exstra Mundum Nulla Salus” yang berarti diluar dunia tidak ada keselamatan. Adagium ini mengandung implikasi bahwa sejarah manusia dengan dunia memiliki dimensi keselamatan baik historis maupun eskatologis. Bagi kaum beriman, manusia dan realitas dunia dengan aneka potensi sumber dayanya yang senantiasa dihubungkan dengan Allah sebagai poendasar atau sumber dinamika penciptaan dan keselamayan haruslah dimanfaatkan dengan sikap tanggungjawab. Inkarnasi berarti ”human atau manusiawi” tidak saja kepada manusia melainkan kepada alam dan lingkungan hidup. Bersikap human berarti tidak merusak, menguras atau menguruskan secara sewenang-wenang , yang berarti malakukan kekerasan pelbagai bentuk kepada alam dan lingkungan hidup manusia itu sendiri.

Tiga : Fransiskus Asisi, Panutan Pelestarian Alam.

Pendiri ordo Fransiskan ini telah tampil di pentas dunia sebagai panutan pelestarian alam. Ia telah menjungkirbalikan dominasi manusia atas alam dan makhluk ciptaan lainnya. Dalam kidung agungnya yang berjudul ”Gita Sang Surya” tercetus solidaritas dan persaudaraannya dengan segenap alam ciptaan. Sang surya, angin, api, gunung, serigala disapanya sebagai ”saudara”. Rembulan, bintang-bintang, air dan bumi dipandangnya sebagai “saudari”. Tanggal 29 November 1979 Paus Yohanes Paulus II menobatkannya sebagai pelindung kelestarian Lingkungan Hidup

Empat : Amanat Konsili Vatikan II

Konsili Vatikan II sangat menyadari bahwa sepanjang sejarah, khususnya masa-masa sekarang ini penggunaan harta duniawi telah dicemarkan oleh keserakahan individual. Aneka kekayaan dunia, pranata manusia dirusakan bahkan pribadi manusia diinjak-injak. Dalam dokumennya yang terkenal “Gandium et Spes” dibicarakan dengan cermat apa yang disebut “kebudayaan baru” dan salah satu elemen penting kebudayaan baru itu adalah “love of nature” atau cinta akan alam. Bahwa sejak awal mula terjadinya dunia ini menurut rencana pencipta agar manusia sehati sejiwa membaharui dan terus-menerus menyempurnakan tata dunia ini. Manusia beriman diserahi tugas mulia ke atas pundaknya untuk membangun dunia yang lebih baik di dalam kebenaran dan keadilan dan kita semua menjadi saksi kelahiran humanisme baru, dalamnya martbat manusia ditentukan oleh tanggungjawabnya terhadap sesama, alam dan terhadap sejarah.

Lima : Teologi Agama-Agama

Teologi agama yang sangat berkembang akhir-akhir ini telah membawa sebuah iklim baru bagi pengembangan serta pelestarian lingkungan hidup manusia. Perkembangan iman dan rohani perlu menjiwai pertumbuhan akal pikiran dalam lingkungan hidup, sehingga berjalan seiring dengan perkembangan manusia untuk memelihara, menumbuhkan dan melestarikan lingkungan hidup. Teologi agama asli menjuluki bumi ini sebagai “mother earth”, sebuah istilah yang sangat akrab dan tidak bercitra kekerasan. Dalam ajaran Islam surat Al-Baqarah yang bervbicara mengenai tiga dimensi manusia dalam relasinya dengan alam. Agama Budha yang berjuang memperoleh ”pemebasan” dan pembebasan dari kesadaran sekitar secara positif berarti tidak menggangu lingkungan. Agama Hindu dalam gerakan Ahimsa yang dipelopori Mahadma Gandhi memang merupakan aksi tanpa kekerasan yang dijukukan bukan saja kepada manusia melainkan juga kepada seluruh lingkungan manusia. Tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan sehingga basis agama manapun yang diambil akan selalu cocok dengan upaya pelestarian lingkungan. Amanat Dharma penganut Hindu , Harmoni alam agama Budha dan amanat Al-Quran bagi penganut Islam sangat akrab dengan lingkungan.

KESIMPULAN

Pelestarian alam dan lingkungan hidup yang berwawasan teologis sesungguhnya merupakan usaha untuk memberi tempat dan nilai bagi agama dalam konteks kehidupan dan aktivitas manusia. Juga merupakan refleksi tentang peran agama dalam aktivitas pelestarian alam sebagai pengejawantahan peran serta insan beragama dalam menjaga keutuhan alam ciptaan.

Berhubungan dengan keadaan kita ni Nusa Tenggara Timur ini dan atas dasar anjuran untuk ”think globally and locally” kita perlu memahami lebih baik konsep-konsep budaya setempat dimana paradigma teosentris amat nyata. Kita semua mungkin bisa ”back to basic” dalam arti bahwa budaya kita ternyata menawarkan hala yang sangat positif dalam upaya pelestarian lingkungan. Bagaimana upaya itu menjadi kenyataan ? Bagaimana ide ”keutuhan ciptaan” yang hadir dalam budaya lokal misalnya dapat kita manfaatkan dewasa ini dalam upaya kita melestarikan atau paling kurang menghormati alam semesta ? Saya yakin bahwa teologi lingkungan yang kontekstual adalah sumbangan yang diharapkan berguna bagi pergumulan masalah-masalah lingkungan hidup. Dengan demikian sikap teknokratis atau kesombingan teknologi tidak perlu diulang.

Pelestarian alam dan libgkungan hidup adalah ”ungkapan iman yang matang atau dewasa”. Teori Fowler tentang perkembangan iman eksistensial mengatakan bahwa iman yang sudah berada dalam tahap matang adalah ”yang sudah ditingkat terlibat” dalam kegiatan-kegiatan positif terhadap masyarakat. Pelestarian alam dan lingkungan adalah ungkapan kegiatan masyarakat yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat, karena itu berarti menjadi ungkapan iman yang matang dan dewasa.

Dialog antar agama akan mengangkat dan menyajikan pandangan-pandangan dan amanat-amanat agama dalam mengembangkan, menata, memelihara dan melestarikan alam dan lingkungan hidup. Manusia yang akrab dengan alam akan menjaga keutuhan dan keharmonisan alam itu sendiri. Antroposentrisme dan naturasentrisme mesti bergeser menuju solidaritas teosentris yang menempatkan kita sebagai mitra-mitra kreatif Allah sendiri dalam kehidupan bersama alam sekitar. Pendidikan cinta akan alam dan lingkungan hidup mesti menjadi keprihatinan bersama diwaktu-waktu yang akan datang secara lebih sungguh-sungguh.

Kearifan ekologis akhir-akhir ini sering dibicarakan dan diberi judul ”kesadaran planetaria” oleh klub study Budapest. Kelompok ini menyerukan Metanoia dari pelbagai dosa sosial terhadap masyarakat manusia dimana saja seperti ” pembabatan hutan, pengurasan tanah, pencemaran air dan laut, yang menampilkan manusia sebagai penindas yang rendah diri dan agresif. Kita semua mau berjuang untuk ”back to nature” dan kita semua akan bekerja kearah keutuhan ciptaan.

Penulis :   Dina Tupitu (Oktan Poy)
Editor : Pemred

Tinggalkan Balasan