Masihkan Tunggak HTI Dapat Dimanfaatkan?

0
200

Saat ini tunggak Acacia crassicarpa pada areal bekas tebangan masih ditinggalkan sebagai biomasa tertinggal dan sebagai limbah. Sebagai biomasa tertinggal tunggak diperlakukan sebagai input hara bagi rotasi berikutnya. Sebagai limbah tunggak merupakan sisa tebangan yang mengganggu proses land clearing dan penanaman, serta disinyalir sebagai sumber penyakit akibat pembusukan biomasa. Tunggak HTI jumlahnya berlimpah. Seberapa luas tebangan HTI, seluas itu pula sumber tunggak.

Berapa banyak limbah tunggak HTI?

Jumlah tunggak dapat ditemukan di areal bekas tebangan HTI berkisar antara 460 – 880 buah/ha atau 222 stapel meter yang setara dengan 1.8 ton/ha. Jumlah tersebut memiliki variasi diameter antara 23 – 26,2 cm. Jika luas tebangan 3.000 ha, maka total potensi tunggak yang tersedia sebanyak 666.207,4 sm (atau 47.493 ton).

Adapun tunggak yang potensial dapat dimanfaatkan dengan peralatan manual berkisar 100-200 buah tunggak/ha dengan rata-rata volume 39,13 sm/ha yang setara dengan 3 ton/ha. Jumlah tersebut hanya sebesar 17,6% dari volume total dan 18,8% dari bobot total/ha.
Proporsi tersebut berkaitan dengan kesulitan pembongkaran tunggak secara manual. Konstruksi akar cukup dalam mencengkram tanah, dengan kedalaman 1,5 m dan radius 1 m.

Tunggak krasikarpa untuk apa ?

Setidaknya ada 3 peluang pemanfaatan tunggak HTI, yaitu : untuk suplemen bahan baku pulp, bahan kayu energy (arang) dan arang aktif.

Prospek sebagai suplemen bahan baku pulp perlu dipertimbangkan karena saat ini diakui oleh berbagai industry pulp bahwa bahan baku kayu mengalami kekurangan. Jumlah pasokan kayu masih di bawah kapasitas industry terpasangnya. Sehingga pemanfaatan tunggak untuk suplemen kayu pulp patut dipertimbangkan.

Kadar air tunggak krasicarpa berkisar 43,27%-45,95%, dan berat jenis berkisar 0,56-0,63 gr/cm3. Kayu yang memiliki berat jenis lebih tinggi cenderung lebih teguh dan mudah diolah.Sayangnya, arah serat krasicarpa ini adalah serat terpilin. Sehingga pengolahan untuk pulping memerlukan asupan kimiawi yang lebih.

Prospek tunggak sebagai bahan baku arang lebih tinggi ditinjau dari sifat fisiknya. Nilai kalor tunggak 4.342 kal/gr (kisaran 4,013 – 4,428 kal/gr). Nilai kalornya hampir separuh dari nilai kalor minyak fosil (9,663–10,490 kal/gr) dan sebanding dengan nilai kalor jenis kayu daun lebar secara umum yaitu 4.400 – 4.700 kcal/kg.

Satu staple meter (1 sm) tunggak krasikarpa dalam keadaan basah (KA = 44,27%) dengan berat 0,33 ton jika dimanfaatkan sebagai bahan bakar setara dengan energy sebesar 0,70 x 106 kcal, atau ekuivalen dengan minyak fosil 92,49 liter. Apabila tunggak tersebut dalam keadaan kering oven, maka 1 sm dengan berat 0,23 ton jika setara dengan energi 1,01 x 106 kcal, atau ekivalen dengan minyak fosil 133,43 liter.

Prospek berikutnya adalah pembuatan arang aktif. Arang aktif adalah suatu karbon yang mampu mengadsorpsi anion, kation, dan molekul dalam bentuk senyawa organik dan anorganik, baik berupa larutan maupun dalam bentuk gas.

Rendemen arang aktif tunggak krasicarpa berkisar 33,5 – 71,4%. Rendemen tinggi (71,4%) dapat dihasilkan dari rendaman H3PO4 10% pada suhu 650oC. Arang aktif yang dihasilkan memiliki kadar karbon terikat yang tinggi sebesar 87 – 92.5%. Dengan demikian, prospek pemanfaatan tunggak HTI terbesar adalah sebagai bahan baku arang.

Sebagai limbah tunggak merupakan sisa tebangan yang mengganggu proses land clearing dan penanaman, serta disinyalir sebagai sumber penyakit akibat pembusukan biomasa. Tunggak HTI jumlahnya berlimpah. Seberapa luas tebangan HTI, seluas itu pula sumber tunggak.

Tantangan pengembangan

Potensi tunggak yang berlimpah, sifat dasar tunggak yang relevan dan hasil arang yang kompetitif merupakan peluang besar pemanfaatan tunggak Acacia crassicarpa. Namun proses produksi dan investasi yang belum efisien merupakan faktor yang perlu mendapat perbaikan (improvement). Tantangan yang perlu diperhatikan untuk pengembangan tunggak sebagai bahan baku arang antara lain :

  1. Diperlukan teknologi rekayasa alat pencacah tunggak agar diperoleh keseimbangan serapan tenaga kerja dengan output kerjanya. Dengan teknologi ini diharapkan mampu meningkatkan randemen serta merasionalisasi jumlah tenaga kerja yang digunakan untuk menghasilkan randemen yang wajar.
  2. Integrasi dan kemiteraan dengan pengusaha HTI pulp diperlukan dalam rangka menghindari panjangnya rantai tata niaga bahan baku. Jika memungkinkan mewujudkan industri terpadu antara kayu pulp dengan arang, atau arang dengan produk turunannya seperti arang aktif dan cuka kayu akan sangat mungkin meningkatkan nilai tambah dan memperbaiki efisiensi.
  3. Memperhitungkan indirect positive effect (Gregersen & Contreras, 1979). Indirect effect didefinisikan sebagai beberapa perubahan dalam kuantitas dan kualitas barang dan jasa yang dapat tersedia bagi masyarakat dalam proyek yang tidak termasuk dalam perhitungan analisis finansial, tidak secara langsung dibeli atau dijual dalam pasar melalui entitas finansial dimana analisis finansial dilakukan.

Penulis: Yanto Rochmayanto
Editor: Pemred

Tinggalkan Balasan