Potensi dan Tantangan Pengelolaan Cagar Alam Mutis

0
287
Cagar Alam Gunung Mutis (foto: rinigadjo.blogspot.co.id)

I. Pendahuluan

Kawasan hutan Mutis merupakan salah satu kawasan hutan yang terletak di Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kabupaten Timor Tengah Utara, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 89/Kpts-II/1983 tanggal 2 Desember 1983 telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi yang berfungsi sebagai kawasan Cagar Alam seluas ± 12.000 ha.

Secara geografis kawasan hutan Cagar Alam Mutis terletak antara 124º 10’ – 124º 20’ BT dan 9º 30’–9’’ 40’ LS. Kondisi topografinya berbukit-bukit dan puncak gunung tertinggi adalah puncak Mutis yakni ±2.427 m diatas permukaan laut, serta kemiringan lereng hingga curam.

Kawasan hutan Cagar Alam Mutis dan sekitarnya termasuk tipe hutan hujan yang relatif homogen dan didominasi oleh jenis ampupu (Eucalyptus Urophylla). Jenis lain yang menonjol setelah ampupu adalah Podocarpus sp, Casuarina junghuniana Mig dan Celtis wightii planch yang membentuk tajuk lapis kedua di bawah tajuk ampupu. Secara vertikal kawasan hutan Cagar Alam Mutis dapat terlihat tersusun atas tiga lapis tajuk pohon. Lapisan paling atas setinggi 35 – 45 meter, lapisan kedua antara 15 – 25 meter dan lapisan ketiga berupa perdu atas pohon kecil dengan ketinggian 2 – 5 meter.

Alasan utama lain kawasan hutan gunung mutis ditetapkan sebagai kawasan hutan Cagar Alam Gunung Mutis karena merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati yang khas di propinsi Nusa Tenggara Timur, dan juga letaknya yang sangat strategis yakni antara Indonesia dan Negara Timor Leste, dimana ada tiga daerah aliran sungai besar berhulu pada kawasan Cagar Alam Mutis, di antaranya Das Benain dan Noelmina berhilir di Besikama Kabupaten Belu dan Bena Kabupaten TTS.

Ancaman terhadap pengelolaan potensi kawasan hutan Cagar Alam Mutis saat ini yakni ; adanya desa enclave dalam kawasan hutan seperti Desa Nenas dan Nuapin, berkemungkinan akan berdampak terhadap kerusakan hutan apabila pertumbuhan penduduk tidak ditekan sementara luas lahan tidak bertambah maka lahan hutan menjadi sasaran, penyerobotan kawasan untuk lahan perkebunan, penebangan liar untuk kayu bangunan, pengambilan kayu bakar, kebakaran hutan, dan ternak liar di dalam kawasan hutan.

Sesuai dengan data yang ada pada BBKSDA NTT (2010), kerusakan hutan Cagar Alam Mutis lebih banyak disebabkan oleh penyerobotan hutan untuk kepentingan lahan perkebunan, pada kurun waktu lima tahun terakhir luas hutan yang di rambah oleh masyarakat lokal adalah ±46 ha, kebakaran hutan sering terjadi pada awal musim kemarau, pengambilan kayu bangunan, kayu bakar dan sistem ternak liar yang secara turun temurun dilepas di dalam kawasan hutan Cagar Alam Gunung Mutis (sapi dan kuda).

Mengingat semua aktivitas masyarakat tersebut di atas berdampak terhadap kerusakan komposisi dan struktur populasi tumbuhan dan satwa liar yang hidup di dalam kawasan Cagar Alam Mutis. Maka lewat paparan materi ini akan disampaikan berbagai bentuk upaya pengelolaan yang telah dilaksanakan oleh pihak pengelola dalam hal ini BBKSDA NTT sebagai unit pelaksana teknis di lapangan dalam meningkatkan fungsi kawasaan Cagar Alam Gunung Mutis, yakni perlindungan sistem penyangga kehidupan, melakukan pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, serta pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.

II. Profil Kawasan Cagar Alam Gunung Mutis

1. Sejarah kawasan

Berdasarkan tinjauan yuridis bahwa kawasan hutan mutis telah ditetapkan sebagai kawasan hutan Negara dan selanjutnya diurus, dikelola, dilindungi dan dimanfaatkan secara berkesinambungan bagi kesejahteraan masyarakat baik untuk kepentingan masa kini maupun masa yang akan datang dengan dasar proses pengukuhan sebagai berikut ;

a) Mutis Geberge, Zulfbestuur Nomor : 4/1 tanggal 31 Maret 1928, tentang hutan larangan
b) Instuksi Menteri Pertanian Nomor : 185/Mentan/III/1980 tentang Tata Guna Hutan Kesepakatan
c)Surat Keputusan Menteri Pertanian nomor: 89/Kpts-II/1983, tertanggal 2 Desember 1983, tentang Cagar Alam Mutis seluas ± 12.000 hektar,

d)Selanjutnya Surat Keputusan tersebut direvisi melalui Surat Keputusan Menhutbun No.423/Kpts-II/1999 tanggal 15 Juni 1999 tentang Cagar Alam Gunung Mutis yang luasnya menjadi 17,211.95 hektar.

2. Letak

Kawasan Cagar Alam Gunung Mutis terletak di bagian barat laut Pulau Timor, secara geografis terletak antara 124’ 10’ – 124’ 20’ Bujur Timur dan 9’ 30’ – 9’ 40’ Lintang Selatan. Secara administrasi Cagar Alam Gunung Mutis berada dalam dua wilayah kabupaten yaitu Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Timor Tengah Utara.

3. Topografi

Secara keseluruhan keadaan topografi Kelompok Hutan Mutis (RTK 183) adalah berat dengan relief berbukit sampai bergunung dan keadaan lereng miring sampai curam. Sedangkan keadaan lapangan kawasan Cagar Alam Gunung Mutis dan sekitarnya bergelombang sampai bergunung, sebagian besar wilayahnya mempunyai kemiringan 60% ke atas atau termasuk kriteria kelas lereng lapangan 5. Puncak tertinggi adalah Gunung Mutis dengan ketinggian 2.427 meter dpl.

4. Geologi Tanah

Menurut Peta Geologi Indonesia skala 1: 2.000.000 yang dikeluarkan oleh Direktorat Geologi-Bandung tahun 1965, formasi geologi di Kelompok Hutan Mutis – Timau (Pulau Timor) sebagian tersusun dari Deret Sonebait dan sebagian kecil dari Deret Kekneno. Sekis Hablur, Batuan Basah Menengah, Batuan Basah, Batuan Endapan Meogen dan Paleogen.

Berdasarkan Peta Tanah Indonesia tahun 1968 skala 1 : 2.500.000 dari Lembaga Penelitian Tanah Bogor, jenis tanah yang terdapat di wilayah Mutis Timau terdiri atas tanah-tanah kompleks dengan bentuk pegunungan kompleks dan jenis tanah mediterium dengan bentuk pegunungan lipatan.

5. Iklim

Gunung Mutis dan sekitarnya merupakan daerah terbasah di Pulau Timor, hal ini dapat dilihat dari jumlah hari hujannya dalam satu tahun dan hujan turun hampir setiap bulannya dengan frekuensi hujan tertinggi terjadi pada bulan November sampai Juli sedangkan frekuensi hujan terendah terjadi pada bulan Agustus sampai Oktober. Rata-rata curah hujannya adalah 1500 sampai 3000 mm/tahun (termasuk dalam golongan iklim type B). Suhu berkisar antara 14’C – 29’C, walau demikian suhu dapat turun hingga 9’C (kondisi ekstrim). Angin selalu bertiup sepanjang tahun dengan kecepatan sedang sampai kencang. Angin kencang berkecepatan tinggi terjadi pada bulan November sampai Maret.

6. Hidrologi

Keadaan hujan yang turun hampir setiap bulan sepanjang tahun, memungkinkan kawasan Cagar Alam Gunung Mutis ini menjadi sumber air utama bagi tiga Daerah Aliran Sungai (DAS) besar di Pulau Timor yaitu Noelmina dan Noel Benain di bagian selatan dan Noel Fail di bagian utara. Drainase aliran sungainya berpola dendritis (Noel Mina dan Noel Benain) sebagai akibat kompleksitas permukaan di bagian selatan dan pola pararel (Noel Fail) akibat kelerengan yang relatif seragam di bagian utara.

Tabel 1. Anak Sungai Noel Benain dan Noel Mina yang Berhulu di Cagar Alam Gunung Mutis dan Gunung di Sekitarnya,

Sumber : Peta Rupa Bumi skala 1 : 25.000 (BAKOSURTANAL) dan Peninjauan Lapangan.
Sumber : Peta Rupa Bumi skala 1 : 25.000 (BAKOSURTANAL) dan Peninjauan Lapangan.
7. Potensi Flora dan Satwa liar

Kawasan Cagar Alam Gunung Mutis dan sekitarnya termasuk tipe hutan hujan yang relatif homogen. Hasil pengumpulan data lapangan menunjukkan ada 29 jenis tumbuhan berkayu yang tumbuh di kawasan Cagar Alam Mutis, dan di dominasi oleh jenis ampupu (Eucalyptus Urophylla). Jenis lain yang menonjol setelah ampupu adalah Podocarpus sp, Casuarinas junghuniana Mig dan Celtis wightii planch yang membentuk tajuk lapis kedua di bawah tajuk ampupu dan lapis ketiga adalah Belta jenis Natwon (Daphiniphyllum glancescens BI) yang tersebar merata di bagian bawah.

Sedangkan jenis satwa liar yang hidup pada kawasan Cagar Alam Mutissangat beragam, mulai dari kelompok burung (aves), mamalia, reptilia, amfibi, Lepidoptera, Hymenoptera. Untuk kelompok Jenis burung terdiri dari 36 famili dan 84 spesies yang dominasi dari famili Columbidae yakni terdiri dari 12 spesies disusul famili Meliphagidae ada 10 spesies, famili Turdidae ada 6 spesies dan famili Sylviidae ada 5 spesies .

Kelompok mamalia sebanyak 12 spesies, yakni jenis Kelelawar Besar (Rhinolopus hipposideros) Kelelawar Sedang (Chiroptera sp), Kelelawar Kecil (Myotis sp), Kera ekor panjang (Macaca fascicularis) Kuda Liar (Equus pezwalskii Caballus), Kus-kus Putih (Phalanger orientalis),Kus-kus Abu-abu Hitam (Phalanger gymnotis), Kus-kus Cokelat Kuning (Phalanger vestitus) , Musang (Viverra sp),Babi hutan (Sus scrofa ), Rusa Timor (Cervus timorensis),Kucing Hutan (Felis prionailurus)

Kelompok Lepidoptera (kupu-kupu) terdiri dari 16 spesies yakni : Layang-layang Besar (Papilio oresponthes), Layang-layang hitam (Papilio polixenes asterius), Beruang (Papilio Glaucus), Kawal Raja (Papilio merchaon), Hitam (Venesa cardui), Kupu-kupu mata merah (Venesa io, Kupu-kupu Mata Majemuk (Strimon melinus), Kupu-kupu sayap biru (Lycaena argus), Kupu-Kupu Perunggu Orange (Eurymus euritheme), Kupu-Kupu Pinggiran Jalan ( Eurymus philodica), Kupu-Kupu Daun (Urbanus Proteus), Kupu-kupu Raja Mata Mejemuk (Anteraea polyphemus), Kupu-kupu Raja (Apatura iris), Kupu-kupu Kuning Keungu-unguan (Eacles imperialis), Kupu-kupu Cokelat Tua/Kuning Gelap (Anisota sp), Kupu-kupu Putih Kecil (Pieris repae)

Kelompok Hymenoptera (lebah) terdiri dari 3 spesies, yakni Lebah batu (Bombus Lapidarius) Lebah Pelubang Kayu (Xylocopa Virginica) Lebah Batu (Megachili Latimanus)

8. Potensi Jasa Lingkungan

Kawasan Cagar Alam Mutis merupakan pusat keanekaragaman hayati, di pulau timur sehingga merupakan potensi jasa lingkungan sebagai penyimpan karbon atau menciptakan iklim mikro. Dan potensi jasa lingkungan yang sangat pentimg yang disediakan oleh kawasan Cagar Alam Mutis untuk masyarakat luas, yakni jasa lingkungan sumberdaya air di mana ada 5 (lima) kelompok pemanfaatan jasa lingkungan air komersil dari kawasan Cagar Alam Mutis:

a) Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Darma Tirta Kabupaten Timor Tengah Selatan, bahwa ada 9 (Sembilan) sumber mata air yang dimanfaatkan PDAM Darma Tirta Kabupaten TTS berasal dari dalam dan di sekitar kawasan Cagar Alam Mutis, yakni ; sumber mata air Bonleu, Poto, Lipan, Manu Metan Oeleu, Haunuek, Oesiet, Oefatu, Oetunu.
b) Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (PAMDK) Timor Mutisqua.
c) Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Desa Nenas
d) Irigasi
e) Rumah tangga.

Kawasan Cagar Alam Mutis juga menyiapkan jasa lebah madu alam yang sering diambil oleh masyarakat yang tinggal disekitarnya.

9. Sosial Budaya Masyarakat

Kependudukan, berdasarkan data BPS Kabupaten Timor Tengah Selatan, dan TTU Tahun 2010, bahwa jumlah desa yang berada tepat sekitar kawasan Cagar Alam Mutis berjumlah 16 desa dengan total jumlah penduduk 29.939 jiwa. Desa-desa tersebut menyebar di 2 (dua) wilayah admininstrasi pemerintahan yakni ; Kabupaten TTS dan TTU tepatnya terletak menyebar di 5 (lima) wilayah Kecamatan. Untuk lebih jelas rincian data jumlah penduduk per desa yang berbatasan langsung dengan kawasan Cagar Alam Mutis dapat di lihat pada tabel berikut.

Tabel 2.Data Jumlah penduduk Masyarakat yang Tinggal di Sekitar Kawasan Cagar`Alam Mutis di Rinci Per Desa Tahun 2010.

Sumber : Data BPS Kabupaten Timor Tengah Selatan, 2010
Sumber : Data BPS Kabupaten Timor Tengah Selatan, 2010

Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan Cagar Alam Mutis pada umum bermatapencaharaian sebagai petani perkebunan lahan kering. Jenis tanaman yang banyak di tanam oleh masyarakat di sekitar kawasan Cagar Alam Mutis adalah ; tanaman perkebunan (mangga, jeruk, apel,kopi, kelapa, nangka, advokat, kemiri, tanaman Musiman (jagung, wortel, bawang putih, bawang merah, ubi kayu, keladi, ubi jalar, kentang, cabe, pijai)

Pada umumnya masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan Cagar Alam Gunung Mutis berpendidikan SD. Berdasarkan data BPS Kabupaten TTS dan TTU menunjukkan jumlah masyarakat yang tamat SD 5.730 orang, SMA 835 orang dan Tamatan PT 85 orang dan sisanya putus sekolah dan Buta huruf. Minimnya tingkat pendidikan disebabkan oleh fasilitas pendidikan yang sangat terbatas, terutama untuk pendidikan SMA harus melanjutkan ke Ibu Kota Kabupaten atau Propinsi.

Menurut data Dinas Kesehatan Kabupaten TTS, menunjukan data bahwa jenis penyakit yang dominan menyerang masyarakat adalah penyakit ISPA, Disentri dan Malaria.

Berdasarkan data BPS Kabupaten TTS dan TTU, menunjukan bahwa masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan Cagar Alam Mutis, mayoritas menganut agama Kristen Protestan di susul Agama Khatolik. Sedangkan masyarakat dalam komunikasi keseharian di antara sesama warga lebih banyak menggunakan bahasa Dawan dengan pihak luar menggunakan bahasa Indonesia. Adat istiadat masyarakat adalah adat timor atau dawan.

10. Aksesibilitas

Untuk mencapai kawasan Cagar Alam Mutis dapat ditempuh melalui tiga jalur yakni dari arah selatan, timur dan utara.Dari arah selatan dan timur melewati Kabupaten Timor Tengah Selatan, dimana setelah tiba di Kapan (Kota Kecamatan Mollo Utara) jalur menuju lokasi Cagar Alam Mutis terbagi atas dua arah yaitu, arah selatan menuju Desa Fatumnasi (49 Km dari Soe, Kota Kabupaten TTS), dan arah timur melalui Desa Bonleu (30 Km dari SoE, Kota Kabupaten TTS). Sedangkan dari utara melalui Kabupaten Timor Tengah Utara

III. Tantangan Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Mutis

Tantangan utama dalam pengelolaan kawasan Cagar Alam Mutis selama ini oleh BBKSDA NTT, antara lain :

  1. Masih adanya pengklaiman kawasan sebagai tanah adat oleh masyarakarat yang tinggal di sekitar kawasan Cagar Alam Mutis, seperti lokasi di Desa Bonleu, dan Desa Tutem
  2. Banyaknya pihak yang terlibat dalam pengelolaan dan pemanfaatan kawasan Cagar Alam Gunung Mutis selama ini, namun fungsi koordinasinya multipihak belum berjalan optimal.
  3. Adanya desa enclave dalam kawasan hutan seperti Desa Nenas dan Nuapin, berkemungkinan akan berdampak terhadap kerusakan hutan apabila pertumbuhan penduduk tidak ditekan sementara luas lahan tidak bertambah maka lahan hutan menjadi sasaran.
  4. Penebangan liar untuk pengambilan kayu bangunan, pengambilan kayu bakar.
  5. Masih rentan akan kebakaran hutan.
  6. Penggembalaan ternak liar (sapi dan kuda) di dalam kawasan
  7. Masih terbatas tenaga pengaman kawasan Cagar Alam Mutis.
  8. Masih terbatasnya sarana prasarana pengelola mutis.

IV.Penutup

Mengingat potensi dan manfaat keanekaragaman flora dan fauna serta ekosistemnya merupakan salah satu sumber pendapatan bagi daerah bahkan devisa bagi negara, kalau tidak dikelola secara baik maka berakibat fatal, karena untuk mengembalikan kondisi kawasan konservasi kepada kondisi semula membutuhkan waktu yang sangat panjang, kemungkinan kerusakan beresiko besar bagi kelangsungan hidup manusia. Maka diharapkan untuk mengatasi permasalahan terhadap pengelolaan keanekargaman hayati dan ekosistemnya harus berlandas kepada seluruh potensi sumber daya hutan dan berbasis kepada masyarakat setempat, melalui pemberian peluang usaha yang terintegrasi dalam pengelolaan pembangunan pedesaan.

Pengelolaan hutan berbasis masyarakat ini diserlenggarakan berazaskan kelestarian fungsi hutan dari aspek ekosistim ,kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan,pengelolaan sumber daya alam yang demokratis, berkeadilan sosial, berakuntabilitas publik, serta berkepastian hukum.

Kompleksitas permasalahan kawasan konservasi menghendaki upaya penyelesaian secara holistik dengan melibatkan multi stakeholder yang berasal dari berbagai sektor terkait, yaitu pemerintah daerah, lembaga legislatif, dan masyarakat. Terjadinya kesepahaman dalam memahami persoalan pembangunan kawasan konservasi oleh beberapa pihak, merupakan awal untuk melangkah lebih jauh dalam mengatasi kelemahan dan kendala pembangunan kehutanan.

Vana Sri Bavana.

Penulis :   Dina Tupitu (Oktan Poy)
Editor : Pemred

Tinggalkan Balasan