Krisis dan Mental Pra-Pertanian

0
182
Ilustrasi Sebuah Areal Pesawahan (foto : kpa.or.id)

Saya tertegun membaca artikel Sarlito W Sarwono (2006) dalam buku Revitalisasi Pertanian dan Dialog Peradaban. Dengan prihatin saya menyimpulkan bahwa ternyata mental bangsa kita tergolong mentalitas prapertanian. Jauh tertinggal, yang saat ini telah memasuki zaman postmodern, melampaui 2 zaman lain : zaman pertanian dan zaman modern.

Konon, teknik pemenuhan kebutuhan hidup yang muncul pertama kali adalah berburu. Masyarakat pemburu banyak hidup pada wilayah tropis dan subtropis, karena di situlah alam menyediakan semuanya untuk manusia. Semua kebutuhan hidup tinggal memetik di hutan, atau telah tersedia di sungai dan laut.

Orang tidak perlu bekerja, cukup tidur-tiduran sambil menunggu perut lapar, kemudian pergi ke hutan untuk berburu babi atau mancari ikan. Bahkan pakaianpun tidak terlalu dipentingkan, sebab alam begitu bersahabat, sehingga orang bertelanjangpun tidak masalah. Sampai sekarang masih ada orang Afrika dan Papua yang bertelanjang ria. Dulu orang Bali dan Polinesia bertelanjang dada (termasuk wanitanya), sekarang tinggal yang pria saja yang bertelanjang dada.

Sebaliknya, kehidupan di negara dingin jauh lebih sulit. Orang harus membuat pakaian yang sangat tebal agar tubuh selalu hangat. Berburupun tidak semudah di negara tropis. Untuk menangkap seekor beruang, orang Eskimo harus berjalan dengan kereta anjing selama berjam-jam bahkan berhari-hari. Dengan kata lain, memungut hasil alam saja perlu proses yang panjang, termasuk mempersiapkan senjata dan peluru, bekal makanan dan sebagainya.

Karena itulah teknologi beternak dan teknologi pertanian pertama kali berkembang dari wilayah-wilayah yang sumber daya alamnya serba terbatas dan tidak bersahabat dengan manusia. Orang-orang Viking setelah berabad-abad mengalami betapa sulitnya berburu, kemudian berfikir : kenapa tidak ditangkap dan kemudian dijinakkan saja beberapa binatang. Prosesnya tidak sesulit berburu, juga hasilnya dapat diperoleh dengan cepat. Maka mulailah era peternakan dalam sejarah umat manusia, lalu disusul dengan era pertanian.

Mentalitas peternak/petani sangat berbeda dengan pemburu. Keduanya memang sama-sama mengandalkan dari alam, tapi peternak dan petani memilih memanfaatkan dan mengelola alam sebisa mungkin dengan teknologi yang terus dicari dan dikembangkan. Mereka mulai memperhitungkan waktu, masa tanam, pembibitan, pemeliharaan, masa panen, musim hujan, kemarau, musim kering, angin dan sebagainya. Tidak bebas seperti masyarakat pemburu.

Kalau peternak atau petani mengalami musibah, mereka akan mencari sumber masalah pada dirinya sendiri, apa ada yang salah pada proses pembibitan, penanaman, atau pemeliharaan. Baru mereka minta tolong kepada Dewa atau Tuhan. Mereka menyangka bahwa Dewa atau Tuhan sedang marah sehingga perlu dihibur hatinya dengan sesajian kembang tujuh rupa atau ayam bekakak.

Sebaliknya, masyarakat dengan mentalitas pemburu tidak memperhatikan proses. Mereka akan langsung menunjuk sumber masalahnya dari luar, kekuatan diluar kendali mereka, yaitu Dewa atau Tuhan itu, yang bisa berupa gunung berapi, air terjun, pohon beringin, atau batu besar pinggir kali. Mereka menganggap benda-benda itu ada rohnya, yang bisa jahat kepada mereka, atau bisa juga baik. Maka mereka kemudian mencoba berbaik dengan roh-roh itu. Kurban yang diberikan tidak hanya kembang atau ayam, tetapi juga manusia dan dipilih perawan paling cantik di kampungnya.

Refleksi Mentalitas Bangsa

Sebenarnya bangsa Indonesia pernah punya sejarah pertanian yang panjang dan sukses berswasembada beras. Indonesia sudah juga melalui era industri modern, dengan pertambangan minyak, aneka tambang non migas, tekstil, otomotif sampai pabrik kapal terbang. Sekarang kita berada pada zaman post modern, era cyber dan virtual, seolah dunia tanpa batas ruang dan waktu.

Akan tetapi, alih-alih bangsa ini memiliki mentalitas modern atau mental petani, malah justeru mundur ke mentalitas pemburu. Dan ini telah menjalar ke semua lapisan. Masih ada beberapa calon pemimpin masih suka mendatangi makam-makam atau kiai sepuh untuk minta restu. Banyak orang yang terjangkit penyakit ingin gampang tanpa usaha, tapi hasil tiba-tiba punya ijasah dan gelar akademik tinggi.

Saya juga sering mendengar di televisi, orang yang kena musibah diwawancarai menjawab dengan selalu mengkambinghitamkan pihak lain. Katanya, ”Pemerintah ini tidak bertanggung jawab, bantuan belum juga datang. Masa kita disini makan mi terus.”

Pernahkan kita mendengar korban musibah menggunakan kalimat lembut, ”Alhamdulilah, saya dan keluarga selamat. Masalah rumah atau harta lain kan bisa dicari lagi. Sampai saat ini kami masih bisa makan, saya bersyukur walau baru mi yang ada. Mungkin pemerintah sedang kesulitan membantu kami, karena kabarnya jalan di sana putus.”

Kini Indonesia masih juga krisis. Harga barang terus saja naik. Minyak goreng, elpiji dan barang-barang pokok lain membuat dada ini sesak mendengar harganya. Tempe dan kedele pun tak mau ketinggalan mengorbitkan harga. Carut marut ekonomi tiada juga berakhir.

Awalnya orang menyalahkan Orde Baru, maka Suhartopun didemo sampai lengser. Datanglah era reformasi, tapi kok lama sekali ? Tahun 2011 ini adalah tahun ke-13 sejak jatuhnya Orba. Namun kondisi bangsa (sosial, ekonomi dan politik) kian tak menentu. Padahal pemimpinnya sudah bermacam-macam : Pa Habibi yang profesor doktor, Gusdur yang Kiai, Bu Mega yang wanita biasa, sampai SBY yang Jenderal doktor. Terus mau presiden yang seperti apa lagi?

Kita harus belajar juga dari negara lain. Lihat negara-negara kaya : AS, Swiss, Jepang, mereka bahkan termasuk negara yang miskin akan sumber daya alam. Juga faktor iklim dan letak geografis tidak juga banyak berpengaruh.

Maka, Indonesia adalah negara yang cukup kaya SDA-nya, memiliki posisi strategis dan iklim yang bersahabat, tidak dapat mengandalkan faktor-faktor itu untuk menjadi bangsa dan negara yang sukses. Semua itu hanya menjadi mitos yang diajarkan turun temurun di sekolah.

Indonesia sebagai negara dengan politik ekonomi terbuka, sudah mengenal dan menggunakan hampir seluruh alat teknologi yang dikenal di muka bumi. Tetapi di tangan bangsa Indonesia, sepeda motor digunakan untuk memotong arus, telpon seluler digunakan untuk selingkuh, internet digunakan untuk membobol bank, dan uang digunakan untuk berfoya-foya atau menyuap. Semua itu dilakukan karena bangsa ini cenderung ingin mendapat hasil dengan cepat secara mudah.

Kenapa motor memotong arus? Supaya cepat sampai di tujuan. Kenapa banyak orang yang datang ke Gunung Kemukus? Supaya cepat kaya. Kenapa hutan digunduli? Supaya cepat dapat duit banyak. Kenapa ijasah dipalsukan? Karena ingin cepat jadi orang terhormat.

mental-pra-pertanian02
Ilustrasi Pengendara Sepeda Motor yang Tidak Tertib (foto: sitossi.wordpress.com)

Dulu era Bung Karno pernah mengalami krisis. Ternyata terulang kembali pada era reformasi ini. Kita selalu saja menyalahkan kambing hitam. Padahal saatnya kita harus berfikir, bahwa mungkin ada yang salah dengan bangsa kita sendiri. Lihat fakta perilaku bangsa kita, kok sama dengan gambaran mentalitas masyarakat pemburu.

Menghadapi krisis yang berkepanjangan dan multidimensi, bangsa ini membutuhkan mentalitas modern dengan prinsip keteraturan. Orientasi manusia terhadap waktu harus berubah, tidak lagi bergantung dengan musim tapi berorientasi antar jam bahkan menit. Tapi zaman itu sudah lewat. Kini untuk survive pada era post modern adalah mentalitas luwes dan inklusif sehingga cepat menyesuaikan diri dengan keadaan, inspiratif dan pekerja keras.

Hanya saja, mengubah mentalitas pemburu ternyata sangat sulit, bahkan ke mentalitas petani sekalipun. Kalau tidak dengan tekad yang bulat, dilakukan oleh setiap orang dan setiap elemen, mungkin kita masih lama akan terus bergelimang dalam krisis. Maka, mulai dari yang kecil, mulai dari kita sendiri, dan mulai dari sekarang, kita harus mengubah mental itu. Bangsa ini harus segera keluar dari mental pemburu, sehingga menjadi kuat menghadapi dan menyelesaikan krisis.

Penulis: Yanto Rochmayanto
Editor: Pemred

Tinggalkan Balasan