Mengenal Lebih Jauh DAS Cerucuk

2
767

Menurut Shutterland (1972), Pengelolaan DAS adalah pengelolaan terhadap seluruh sumber daya alam dari suatu DAS untuk melindungi memelihara dan memperbaiki hasil air. Untuk itu didalam pengelolaan DAS diperlukan informasi mengenai karakteristik DAS, sebab hasil akhir dari suatu sistem DAS dapat diketahui dengan pendekatan karakteristik DAS.

Karakteristik DAS terbentuk dari seluruh interaksi ataupun hubungan timbal balik antara unsur-unsur sumber daya alam sendiri dan antara unsur alam dengan manusia, oleh karena itu DAS memiliki sifat alami maupun sifat yang terbangun sebagai hasil intervensi manusia.

Karakteristik DAS secara umum dibagi menjadi 2 (dua) yaitu Karakteristik Statis dan Karakteristik Dinamis. Karakteristik Statis merupakan variable dasar yang menentukan proses hidrologi pada DAS seperti Morfologi DAS dan Morfometri DAS. Sementara Karakteristik Dinamis adalah variable yang mempengaruhi percepatan perubahan kondisi hidrologi das seperti meteorology, hidrologi das, land use, sosial, ekonomi, budaya, dll.

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mempunyai 433 buah DAS yang salah satunya adalah DAS Cerucuk dengan luas ± 55.177 Ha yang secara administrasi terletak di Kabupaten Belitung dan Belitung Timur. DAS ini memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut :

1. Karakteristik Meteorologi DAS Cerucuk

Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir (2002-2012) Curah Hujan di dalam wilayah DAS Cerucuk Cerucuk memiliki kategori Tinggi (2500-3000 mm/tahun). Paling tinggi (3.193 mm/Tahun) didaerah sekitar badau, seperti yang tampak pada Gambar.

das-cerucuk-01
Gb 1. Curah Hujan DAS Cerucuk

Gb 2.

2. Karakteristik Morfologi DAS

Bagian Hulu DAS Cerucuk berada disebelah barat kabupaten Belitung (Bukit Tajam) dan disebelah selatan kabupaten Belitung (Bukit Bantan) dengan persentase sebesar 17 % dan bagian hilir yang berada disepanjang sungai utama cerucuk hingga kemuara (Tanjung pandan). Penyelesaian isu/masalah lingkungan di hilir erat keterkaitan dengan kondisi di hulu.

das-cerucuk-03

das-cerucuk-04
Gb2. Morfologi DAS Cerucuk

2.a. Geologi

Dalam DAS Cerucuk Jenis Geologi Alluvium mencapai 2,70 % sedangkan yang paling banyak adalah geologi jenis Tanjung pandan Granite sebanyak 55,45 %. Aluvium adalah zaman geologi yang paling muda dari zaman kuarter atau zaman geologi yang sekarang. Lempung, pasir halus, pasir, kerikil, atau butir batuan lain yang terendapkan oleh air mengalir (banjir, air sungai, arus laut).

das-cerucuk-05

das-cerucuk-06
Gb 3. Geologi DAS Cerucuk

Granit Tanjung Pandan (Trtg) tersusun oleh granit, terdaunkan kelabu muda, holokristalin, berbutir kasar-sangat kasar, butir hipidiomorfik terdiri atas kuarsa, felspar, plagioklas, biotit horenblenda. Batuan ini termasuk dalam tipe “S” (PITFIELD, 1987, dalam BAHARUDIN & SIDARTO, 1995)[8], mengandung greysandyang kaya mineral kasiterit primer. Umur mutlaknya berdasarkan K-Ar berkisar dari 208-245 juta tahun yang lalu.

Sifat-sifat geologi lahan yang tercermin dalam litologi (jenis batuan), stratigrafi maupun struktur geologi akan sangat mempengaruhi keberadaan dan potensi air permukaan dalam DAS tersebut. Jenis batuan yang bersifat kedap (tersusun dari material : lava, andesit, granit) akan menghasilkan aliran dengan puncak lebih tajam dan waktu naik (rising limb) lebih pendek dari pada jenis batuan yang bersifat tidak kedap air (permeable) seperti batu kapur (limestone) dan batu pasir (sandstone). Hal ini disebabkan oleh batuan yang bersifat kedap air akan sedikit meloloskan air, sehingga sebagian besar air hujan yang jatuh di atasnya akan dialirkan sebagai limpasan permukaan yang langsung masuk ke dalam sungai. Untuk batuan yang bersifat tidak kedap air akan banyak meloloskan air, sehingga sebagian kecil dari air hujan yang akan mengalir sebagai limpasan permukaan.

2.b. Lereng

DAS Cerucuk memiliki kelerengan didominasi persentase 8-15 % (Agak Miring) sebanyak 81 %, dan 0-8% (datar) sebanyak 9 %.

das-cerucuk-07

das-cerucuk-08
Gb 4. Lereng DAS Cerucuk

Asdak (2001) mengemukakan bahwa kedudukan lereng juga menentukan besar-kecilnya erosi. Lereng bagian bawah mudah tererosi dari pada bagian atas karena momentum air larian besar dan kecepatan air lebih terkonsentrasi ketika mencapai lereng bagian bawah. Selanjutnya dikatakan Arsyad (2006) bahwa lebih banyak air yang mengalir dan semakin besar kecepatannya pada bagian bawah lereng dari pada bagian atas lereng. Akibatnya adalah bahwa tanah pada bagian bawah lereng mengalami erosi lebih besar dari pada bagian atas.

2.c. Tanah

Karakter masing-masing jenis tanah adalah sebagai berikut:
1. Hapludults adalah jenis tanah yang termasuk ke dalam Ordo Ultisols. Ultisols adalah tanah yang mempunyai tingkat pelapukan lanjut yang ditunjukkan oleh horison bawah penciri argilik atau horison akumulasi liat. Akibat pelapukan lanjut, tanah mempunyai tingkat kesuburan yang rendah dengan kandungan basa kurang dari 35%. Selain sifat tersebut, tanah juga mempunyai rejim kelembaban tanah udik. Menurut Klasifikasi Dudal dan Soepraptohardjo tanah ini disebut Podsolik Merah Kuning. Hapludults mempunyai penyebaran yang cukup luas pada fisiografi Peneplain Datar sampai Bergelombang serta Dataran Volkan. Tanah berkembang dari bahan induk tuftdasit, batuliat, tuft andesit dan basalt. Tanah dengan bahan induk tersebut mempunyai solum dalam (>100 cm), drainase baik. Tekstur lapisan atas berkisar dari sedang sampai agak halus, sedangkan lapisan bawah halus. Analisis sifat kimia di laboratorium menunjukkan bahwa Hapludults mempunyai reaksi tanah masam sampai sangat masam (pH 4,0 – 5,4), kandungan C organik umumnya rendah sampai sedang. Ketersediaan hara P sangat rendah demikian juga dengan KB. KTK tanah berkisar dari sedang sampai rendah dan kejenuhan Al sangat tinggi. Untuk usaha pertanian, tanah memerlukan perbaikan sifat fisik dan kimia melalui penambahan pupuk organik dan anorganik serta kapur untuk memperbaiki reaksi tanah dan menekan kejenuhan Al. (Busyra BS,Firdaus 2010)

2. Hapludox, dalam klasifikasi system taksonomi tanah 1975 (SSS, 1975) termasuk golongan Oxisol, dengan bahan induk berupa batu beku intermediet, memiliki horizon A dengan kedalaman 0-22 cm dan horizon B kedalaman 22-120 cm. Penampilan tektsur tanahnya berupa lempung dengan struktur remah halus dan gumpal agak menyudut dan memiliki konsistensi tanah cukup gembur, halus medium serta gembur lekat (Purwowidodo, 2003)

3. Hydraquents, dalam klasifikasi system taksonomi tanah 1975 (SSS, 1975) termasuk golongan Entisol, dengan bahan induk berupa alluvium muda, perkembangan horizon organik setebal 30 cm dengan tumbuhan berupa hutan mangrove. Pada horizon 0-3 cm berwarna coklat kelabuan dan hitam. Teksturnya berupa lempung debuan dengan struktur gumpal membulat halus hingga sedang, cukup gembur, agak lekat, tidak plastis dengan pH 3,5 (Purwowidodo, 2003).

das-cerucuk-09

das-cerucuk-10
Gb 5. Tanah DAS Cerucuk

3. Karakteristik Morfometri DAS

3.a. Luas DAS

DAS Cerucuk termasuk kedalam kategori DAS Kecil karena memiliki luas 55.177 Ha.

das-cerucuk-11

3.b. Bentuk DAS

Bentuk DAS mempunyai pengaruh pada pola aliran sungai dan ketajaman puncak discharge banjir. Bentuk daerah aliran sungai ini sulit untuk dinyatakan secara kuantitatif. Dengan membandingkan konfigurasi basin, dapat dibuat suatu indeks yang didasarkan pada derajat kekasaran atau circularity dari DAS. DAS Cerucuk memiliki Luas (A) : 551.77 Km² dan Kelililng (P) : 132.44 Km. Miller (1953) menggunakan circularity ratio diperoleh nilai Rc DAS Cerucuk 0,395 yang berarti bentuk DAS tersebut adalah memanjang. Semakin memanjang bentuk DAS, waktu konsentrasi yang diperlukan semakin lama sehingga fluktuasi banjir semakin rendah.

3.c. Pola Aliran

Bentuk pola aliran (drainage pattern) ada bermacam – macam yang masing – masing dicirikan oleh kondisi yang dilewati oleh sungai tersebut. Bentuk pola aliran yang ada di DAS Cerucuk adalah pola Dendritik dimana bentuk nya seperti percabangan pohon, percabangan tidak teratur dengan arah dan sudut yang beragam. Berkembang di batuan yang homogen dan tidak terkontrol oleh struktur, umunya pada batuan sedimen dengan perlapisan horisontal, atau pada batuan beku dan batuan kristalin yang homogen.

das-cerucuk-12
Gb 6. Pola Aliran DAS Cerucuk

3.d. Kerapatan Aliran

Adalah panjang aliran sungai per kilometer persegi luas DAS. Semakin besar nilai Dd semakin baik sistem pengaliran (drainase) di daerah tersebut. Artinya, semakin besar jumlah air larian total (semakin kecil infiltrasi) dan semakin kecil air tanah yang tersimpan di daerah tersebut.

Diketahui berdasarkan perhitungan Ln (panjang sungai total) = 859.81 (km), A (luas DAS) 551.77 (km2) maka diperoleh Dd (kerapatan aliran) = 1,56 (km/km2). LYNSLEY (1975) menyatakan bahwa jika nilai kepadatan aliran lebih kecil dari 1 mile/mile² (0,62 Km/Km²), DAS akan mengalami penggenangan, sedangkan jika nilai kerapatan aliran lebih besar dari 5 mile/ mile2 ( 3,10 Km/ Km²), DAS sering mengalami kekeringan.

4. Karakteristik Kemampuan DAS

4.a. Erosi

Berdasarkan pendugaan erosi yang dilakukan pada tahun 2013 diperoleh data sebagai berikut :

das-cerucuk-13

das-cerucuk-14
Gb 7. Erosi DAS Cerucuk

Pendugaan Erosi di DAS Cerucuk didominasi oleh kategori TBE Sangat Ringan dan ringan dengan jumlah prosentase 85 %, hal ini dimungkinkan karena lokasi yang tidak terlalu curam (cenderung landai).

4.b. Penggunaan Lahan

das-cerucuk-15

Dari Tabel diatas terlihat prosentase yang paling besar untuk penutupan lahan digunakan sebagai Pertanian Lahan Kering Campur Semak (48,26%) dimana Semua jenis pertanian lahan kering yang berselang-seling dengan semak, belukar dan hutan bekas tebangan. Sering muncul pada areal perladangan berpindah, dan rotasi tanam lahan karst. Kelas ini juga memasukkan kelas kebun campuran.

das-cerucuk-16
Gb 8. Tutupan Lahan DAS Cerucuk

das-cerucuk-17

Melihat data tabel diatas berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. SK. 798 tahun 2012 DAS Cerucuk hanya memiliki kawasan hutan 29 %, hal ini menunjukan keberadaan DAS Cerucuk secara tata batas kawasan hutannya masih cukup rawan (sedikit/kecil), dan akan mengalami kecenderungan berubah (menurun) terkait tekanan penduduk/ekonomi dari DAS Cerucuk itu sendiri.

das-cerucuk-18
Gb 9. Kawasan Hutan DAS Cerucuk

Bila dikaitkan dengan Sosial Ekonomi di dalam DAS Cerucuk kegiatan perkebunan (Hutan Rakyat) / Agroforestry dan sejenisnya harus tetap digalakan menjadi penggiat ekonomi didalam das Cerucuk untuk mempertahankan fungsi das dengan baik dengan kawasan hutan yang kecil namun mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

5. Karakteristik Sosial Kependudukan DAS

Untuk melihat karakteristik Sosial Kependudukan DAS Cerucuk perlu kita ketahui wilayah administrasi yang masuk dalam wilayah DAS Cerucuk. Berdasarkan hasil overlay DAS Cerucuk terdiri dari 24 Desa/Kelurahan, 6 Kecamatan, 2 Kabupaten.

Dalam ekosistem DAS, penduduk merupakan bagian yang sangat penting. Salah satu aspek kependudukan yang perlu diperhatikan antara lain menyangkut kepadatan penduduk geografis.

Asumsi yang digunakan adalah bahwa suatu wilayah yang mempunyai kepadatan penduduk geografis tinggi cenderung akan lebih mempunyai resiko terjadinya kerusakan lingkungan dari pada wilayah dengan kepadatan penduduk geografis rendah. Hal tersebut disebabkan intensitas pemanfaatan lahan dan air akan lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah yang mempunyai kepadatan penduduk geografis yang lebih rendah.

Kecamatan Tanjung Pandan dan sekitarnya merupakan daerah dengan kepadatan penduduk yang paling tinggi.

das-cerucuk-19

Kecamatan Badau (Desa Air Batu, Kacang Butor) merupakan wilayah administrasi yang paling luas (24.467 Ha) masuk dalam wilayah DAS Cerucuk.

6. Karakteristik Sosial Budaya DAS

Berdasarkan data dari BPS 2013 di DAS Cerucuk memiliki tingkat pendidikan yang paling beragam di daerah hilir (tanjung pandan) hal ini dikarenakan fasilitas pendidikan yang lebih lengkap berada di Ibu Kota Kabupaten. DAS Cerucuk memiliki tingkat pendidikan dari PAUD hingga perguruan tinggi.

Didalam masyarakat Bangka Belitung terdapat kearifan lokal “Kelekak” yang merupakan singkatan dari “Kelak Untuk Ikak” yang artinya Nanti Untuk Kamu, masyarakat pada umumnya menanam tanaman pokok kehidupan seperti Durian, Nangka, Rambutan, Cempedak di dekitar perkarangan rumah/kebun yang nantinya dapat dimanfaatkan oleh generasi penerus. Namun hal ini berbanding terbalik dengan wilayah perkotaan yang pemanfaatan lahannya lebih banyak digunakan untuk pemukiman dengan luasan tanah yang terbatas sehingga tidak memungkinkan membuat “Kelekak” . Hal ini disebabkan daya beli masyarakat untuk lahan yang lebih luas di daerah perkotaan sudah tidak memungkinkan pada masyarakat umumnya.

7. Karakteristik Sosial Ekonomi DAS

Mata Pencaharian di dalam DAS Cerucuk cukup beragam mulai dari Buruh, Tani, Tukang, Nelayan, PNS/Polri/TNI, Swasta, TI (Tambang Inkonvensional), dll. Sektor perdagangan (dihilir) menjadi pengerak roda perekonomian di dalam DAS Cerucuk. Pada tutupan lahan yang berada dimorfologi Tengah dan Hulu dengan tipe Pertanian Lahan Kering Campur semak/perkebunan juga menjadi pengerak perekonomian dari sektor perkebunan/pertanian. Didaerah hulu kegiatan perekonomian perlu diperhatikan agar tidak memberikan dampak buruk pada bagian hilir.

8. Karakteristik Kelembagaan DAS

Pengembangan kelembagaan telah menjadi bagian dari strategi pembangunan. Pengembangan kelembagaan juga merupakan bagian dari strategi pengelolaan suatu DAS. Kelembagaan baik berupa organisasi maupun bukan organisasi merupakan salah satu penggerak pembangunan. Kelembagaan sekaligus juga merupakan penggerak dalam pengelolaan di suatu DAS. Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah telah mensinergikan perannya masing- masing dalam wadah Forum DAS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Saat ini Forum DAS berperan aktif sebagai inisiator dalam pembentukan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan DAS di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Diharapkan dengan adanya PERDA tentang Pengelolaan DAS dapat membentuk kebijakan yang lebih baik untuk perbaikan lingkungan. Di Kabupaten Belitung atau Belitung timur belum terbentuk Forum Koordinasi DAS, sehingga secara kelembagaan terpadu masih dipandang perlu untuk terus diinisiasi pembentukannya.

Penulis: Henki Simanjuntak | Editor: Beni

2 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan